Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menegaskan komitmennya untuk menjalankan praktik penambangan yang baik dan berkelanjutan. Upaya itu ditunjukkan dalam pengembangan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang di dalamnya akan didirikan smelter untuk pengolahan nikel.
Hingga akhir 2025 kegiatan usaha INCO masih berfokus kepada tahapan kegiatan konstruksi dan perusahaan anggota MIND ID ini akan memulai kegiatan penambangan pada 2026.
Budiawansyah, Direktur dan Chief of Sustainability and Corporate Afairs Oficer Vale Indonesia mengatakan, pihaknya senantiasa berkomitmen terhadap penerapan pengelolaan pertambangan yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk perlindungan kelestarian lingkungan, kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Baca Juga: Tanpa Pengendalian, Penyaluran LPG 3 Kg Bisa Jebol Hingga 8,7 Juta Ton di 2026
"Kami bisa menjalankan komitmen ini pun tidak lepas dari dukungan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” kata dia dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Selasa (27/1).
Asal tahu saja, pernyataan tersebut disampaikan Budiawansyah dalam acara peluncuran laporan riset dan diskusi publik bertajuk ‘Riset Pembangunan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan Pabrik Peleburan HPAL Kolaka Nikel Indonesia (KNI)’ yang dilakukan oleh Yayasan Satya Bumi di Jakarta, 22 Januari 2026 lalu.
Dalam diskusi tersebut, juru kampanye Satya Bumi Alexandra Aulianta bersama Kisran Makati dari Puspaham tampil sebagai dua pembicara, sedangkan Budiawansyah hadir sebagai penanggap.
Dalam kesempatan tersebut, Budiawansyah memberikan penjelasan terkait temuan yang dilakukan Satya Bumi, antara lain kajian hidrologi.
Sebelum kegiatan penambangan dilakukan, kata dia, INCO senantiasa menyusun kajian hidrologi untuk mengelola air limpasan tambang sehingga kualitasnya dapat memenuhi parameter baku mutu lingkungan yang disyaratkan sebelum dialirkan ke badan air.
Kajian hidrologi itu mencakup pemetaan daerah tangkapan air, pemetaan arah aliran air limpasan, data rekaman cura, dan intensitas hujan. Selanjutnya, dilakukan perhitungan potensi debit air limpasan, erosi dan sedimentasi, kebutuhan saluran drainase air limpasan hingga desain fasilitas pengelolaan atau penangkap sedimen baik struktur dan kapasitas sesuai dengan rencana pembukaan lahan.
Baca Juga: BPH Migas Tetapkan Kuota Pertalite Turun 6,28% Jadi 29,27 Juta KL di Tahun Ini
“Untuk memastikan fungsi fasilitas pengelolaan atau penangkap sedimen tersebut, dilakukan kegiatan pemantauan secara rutin terhadap parameter kualitas air limpasan sebelum dialirkan ke badan air pada titik-titik pemantauan yang ditentukan. Ini menjadi wujud nyata kami dalam mengelola l lingkungan,” ungkap Budiawansyah.
Terkait dengan pembukaan lahan untuk kegiatan penambangan dan penunjang INCO di Pomalaa, Budiawansyah menjelaskan, total areal Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang telah dibuka adalah seluas 880,3 hektare (Ha) atau 4,3% dari total luasan IPUK. Khusus pada area hutan lindung luas areal yang telah dibuka adalah seluas 82,4 Ha atau 0,4% dari total luasan IUPK.
Dari jumlah lahan yang dibuka tersebut, seluas 83,7 Ha (0,4%) berupa areal untuk kegiatan persiapan penambangan dan 796,54 Ha berupa areal untuk sarana penunjang yang bersifat permanen, seperti jalan tambang, perkantoran, fasilitas pengendali sedimen, ore stockpile, dan lain-lain.
“Khusus untuk kurun waktu tahun 2024 sampai dengan tahun 2025, total bukaan lahan baru menurut catatan kami adalah seluas 487,9 Ha, bukan 854,29 Ha sebagaimana yang disampaikan dalam surat Satya Bumi dan Puspaham,” katanya.
Lebih jauh, Budiawansyah menegaskan INCO memandang bahwa perlindungan terhadap lingkungan kesehatan dan keselamatan masyarakat adalah hal sangat serius dan utama. Menurutnya, keselamatan merupakan hal krusial bukan hanya untuk pekerja, melainkan juga untuk keselamatan lingkungan tempat beroperasi.
Pihak INCO juga memahami keprihatinan yang disampaikan terkait kondisi kesehatan warga Desa Hakatutobu. Terhadap desa-desa yang dimaksud dalam kajian, Budiawansyah menjelaskan, berdasarkan pemetaan dalam skala yang lebih luas, wilayah operasi INCO berdekatan dengan beberapa konsesi pertambangan lainnya yang telah beroperasi terlebih dahulu.
Baca Juga: Pertamina Prediksi Konsumsi Solar pada Tahun 2026 Tembus 18,8 Juta KL
“Khusus untuk Desa Hakatutobu, berdasarkan penelusuran kami, bahwa wilayah desa tersebut terletak pada areal daerah aliran sungai (DAS) yang berbeda dengan keluaran air limpasan tambang PT Vale,” ujarnya.
Budiawansyah menyatakan, praktik nyata dari penambangan yang baik itu sudah diimplementasikan INCO pada Blok Sorowako, Sulawesi Selatan.
Ia juga menyebutkan apresiasi dari praktik penambangan di Sorowako itu telah membawa INCO meraih berbagai penghargaan bergengsi untuk pengelolaan lingkungan dan sosial, termasuk PROPER Emas 2024 dari KLH, Gold Award Asia ESG Positive Impact Awards 2025 untuk konservasi keanekaragaman hayati, serta Lestari Awards 2025 untuk inisiatif kehati.
INCO pun sangat mengapresiasi kajian yang sudah dilakukan ini dan tentunya akan menjadi referensi bagi perusahaan tersebut.
"Kami sangat percaya transparansi ini adalah sebuah cara membangun kegiatan yang lebih baik. Sekali lagi, kami terbuka untuk menerima masukan-masukan yang konstruktif dari para pemangku kepentingan, termasuk dari masyarakat dan LSM terhadap upaya-upaya terhadap perlindungan,” pungkas dia.
Selanjutnya: Katalog Promo Indomaret Minyak Goreng Hemat, Sovia Lebih Murah sampai 28 Januari 2026
Menarik Dibaca: Katalog Promo Indomaret Minyak Goreng Hemat, Sovia Lebih Murah sampai 28 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












