Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tsingshan Group mendorong pengembangan industri dan rantai pasok nikel yang hijau dan berkelanjutan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Upaya ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan global akan mineral kritis yang diproduksi secara bertanggung jawab guna mendukung transisi energi dan pembangunan rendah karbon.
Komitmen tersebut ditunjukkan lewat Indonesia Critical Minerals Conference and Expo (ICM) 2026 pada 2–5 Juni 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, organisasi internasional, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas penguatan daya saing industri mineral Indonesia melalui penerapan prinsip keberlanjutan dan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG).
Dalam rangkaian ICM 2026, Tsingshan Group bersama United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menggelar High-Level Forum on Mineral Sustainable Development and Eco-Industrial Parks membahas pengembangan kawasan industri berkelanjutan melalui penerapan prinsip Eco-Industrial Park (EIP), praktik ESG, serta transformasi industri yang lebih hijau dan efisien.
Baca Juga: Industri Nikel Sambut Positif Pembatalan Penerapan Gross Split untuk Minerba
Tsingshan Holding Group dan UNIDO menandatangani MoU pada 4 Juni 2026 untuk mendukung program IP4SD yang bertujuan mendorong penerapan prinsip Eco-Industrial Park (EIP) di kawasan industri berbasis mineral. Melalui program tersebut, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) ditetapkan sebagai proyek percontohan Eco-Industrial Park.
Vice President Tsingshan Holding Group, Scott Ye, mengatakan pengembangan rantai pasok mineral yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam mendukung transformasi industri global menuju ekonomi rendah karbon.
"Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia, UNIDO, pelaku industri, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Tsingshan berkomitmen mendukung transformasi IWIP dan IMIP menuju sistem industri yang lebih hijau, efisien, dan bertanggung jawab," ujar Scott Ye dalam keterangannya dikutip Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Kuota Bijih Nikel Dipangkas, Utilisasi Smelter RI Turun Jadi 76%
Program IP4SD juga sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2024 tentang Perwilayahan Industri yang mendorong penerapan efisiensi energi, ekonomi sirkular, dan produksi bersih di kawasan industri.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi industri tidak hanya diukur dari investasi dan peningkatan produksi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat serta terjaganya kualitas lingkungan.
Menurut Sherly, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) sebagai salah satu pusat pengembangan industri di Maluku Utara telah berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mendukung perbaikan kondisi sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.
Senada, Deputy to the Director General and Managing Director of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development UNIDO, Ciyong Zou, mengatakan meningkatnya permintaan global terhadap mineral kritis menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai nilai mineral dunia.
“Karena itu, pengembangan sektor mineral perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi, pengurangan emisi, serta penciptaan manfaat sosial yang lebih luas bagi masyarakat.” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













