: WIB    —   
indikator  I  

Pemulung sampah luar angkasa

Pemulung sampah luar angkasa

Sampah tidak hanya bertebaran di muka Bumi, juga di luar angkasa. Tentu, wujud sampah antariksa beda dengan yang ada di ada di planet kita, seperti plastik, kaleng, atawa botol.

Rupa sampah yang berserakan di luar angkasa, misalnya, satelit dan pesawat antariksa yang sudah tidak terpakai lagi.

Badan Antariksa Eropa (ESA) memperkirakan, saat ini ada sekitar 170 juta puing sampah yang mengorbit Bumi. Benda-benda ini meluncur dengan kecepatan delapan kilometer (km) per detik, atau 10 kali lebih cepat dari peluru.

Ukuran sampah antariksa pun beragam, mulai sebesar truk hingga hanya koin. Meskipun cuma seukuran uang logam, tetap menimbulkan ancaman yang besar bagi satelit dan pesawat ruang angkasa yang sedang beroperasi.

Sampah antariksa berukuran satu centimeter, misalnya, memiliki kekuatan energi setara ledakan granat tangan jika bertubrukan dengan satelit atau pesawat ruang angkasa. “Ketika ini terjadi, puing-puing hasil tubrukan yang tersebar di sekitar angkasa meningkatkan risiko tabrakan lebih lanjut,” kata Heiner Klinkrad, Head of Space Debris Office ESA, kepada CNN.

Untuk itulah, penyapu ruang angkasa ada. Salah satunya: Astroscale. Perusahaan rintisan alias start-up layanan satelit asal Jepang ini menciptakan dua satelit untuk membersihkan sampah antariksa.

Pertama, sebuah satelit mikro yang bertugas mengumpulkan data secara real-time tentang sampah antariksa yang berukuran sangat kecil, diameter tak lebih dari satu milimeter. Data itu akan digunakan untuk mengembangkan peta puing ruang angkasa yang kemudian bakal dijual ke akademisi, badan internasional, serta operator satelit.

Satelit seberat 22 kilogram tersebut bernama Idea OSG-1. Kalau tidak ada aral melintang, satelit ini akan diluncurkan dengan menumpang roket peluncur Soyuz pada 2018 nanti.

Peluncurannya di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, atau Vostochny Cosmodrome, Rusia. Astroscale memperkirakan, saat ini ada sekitar 750.000 sampah antariksa berdiameter lebih dari satu centimeter mengorbit Bumi.

Kedua, End-of-Life Service by Astroscale (ELSA). Tugasnya, mengumpulkan sampah antariksa.

Itu sebabnya, ELSA yang masih dalam tahap desain akan dilengkapi magnet untuk memungut sampah ruang angkasa. Setelah terkumpul, ELSA akan membawa sampah ke atmosfer Bumi agar terbakar habis.

Astroscale yang bermarkas di Singapura bakal membekali ELSA dengan kamera dan sensor yang bisa mengukur jarak dan mengidentifikasi sampah antariksa. “Dengan menggunakan sensor dan kamera ini, kami menentukan lokasi sampah, agar lebih mudah ditangkap,” ujar Miki Ito, President Astroscale, kepada CNN.

Produksi massal

Rencananya, startup yang berdiri 2013 lalu ini melakukan demonstrasi ELSA pada Oktober 2019 mendatang. Astroscale telah merekrut tim spesialis “penyapu ruang angkasa” untuk mengembangkan teknologi satelit “pemulung” tersebut. “Dari konstruksi hingga kesuksesan peluncuran satelit ini adalah misi yang sangat menantang,” ucap Ito.

Jelas, untuk membangun kedua satelit itu, Astroscale butuh dana yang sangat besar. Nah, bulan lalu, mereka baru saja mengantongi pendanaan sebesar US$ 25 juta dari dua investor Jepang. Yakni, perusahaan penerbangan ANA Holdings dan produsen mesin industri OSG Corp.

Alhasil, Astroscale secara total sudah mendapatkan suntikan dana segar dari investor mencapai US$ 67,7 juta sejak 2015 lalu.

Semua investor itu, baik perusahaan maupun perorangan, berasal dari negeri matahari terbit. Sebut saja, Innovation Network Corporation of Japan, JAFCO Japan, Kenji Kasahara, Kiyoshi Nishikawa.

“Komitmen pendanaan ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran internasional bahwa puing-puing antariksa harus dibersihkan untuk melindungi penggunaan ruang angkasa di masa depan dan menjadi topik utama dalam Space Traffic Management (STM),” kata Nobu Okada, pendiri dan CEO Astroscale, pertengahan Juli lalu, seperti dikutip spacenews.com.

Menurut Okada, OSG Corp, salah satu investor Astroscale, tidak hanya memasok instrumen berkualitas tinggi untuk pengembangan satelit. Perusahaan yang berdiri 1938 silam ini juga akan berkontribusi dalam produksi massal dari satelit “pemulung” sampah antariksa.

Astroscale juga berencana memanfaatkan keahlian keselamatan penerbangan dan aeronautika dari investor mereka lainnya, yaitu ANA Holdings yang juga pemilik maskapai Nippon Airways.

Siap-siap mengorbit.


Reporter SS. Kurniawan
Editor S.S. Kurniawan

STARTUP ASTROSCALE

Feedback   ↑ x