kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Daya Beli Melemah, Ekonom Nilai Insentif EV Masih Dibutuhkan Industri Otomotif


Selasa, 10 Februari 2026 / 19:14 WIB
Daya Beli Melemah, Ekonom Nilai Insentif EV Masih Dibutuhkan Industri Otomotif
ILUSTRASI. Kendaraan listrik mengisi daya di SPKLU (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah dinilai masih menjadi tantangan utama bagi industri otomotif nasional. 

Pengamat Ekonomi Senior Perbanas, Josua Pardede menilai insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tetap dibutuhkan untuk menjaga permintaan pasar di tengah tekanan konsumsi rumah tangga.

“Terjadi penurunan daya beli kelas menengah yang cukup signifikan. Data menunjukkan jumlah kelas menengah menurun tajam, sementara kelompok masyarakat rentan meningkat,” kata Josua dalam diskusi Insentif EV Dihapus, Kemana Arah Masa Depan Industri Otomotif di Indonesia? di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada penjualan mobil segmen menengah ke bawah, termasuk low cost green car (LCGC), yang mengalami kontraksi cukup dalam sepanjang 2025.

Sebaliknya, penjualan kendaraan listrik justru menjadi penopang pasar mobil penumpang, terutama pada kuartal IV-2025. Menurut Josua, lonjakan penjualan EV pada Desember 2025 dipicu oleh aksi beli lebih awal (front loading) untuk memanfaatkan insentif pemerintah yang dikhawatirkan berakhir pada awal 2026.

Baca Juga: Ketidakpastian Insentif 2026 Berpotensi Tekan Pertumbuhan Kendaraan Listrik

“Terjadi lonjakan signifikan dari November ke Desember. Dugaan kami, konsumen mempercepat pembelian karena khawatir insentif kendaraan listrik tidak berlanjut,” ujarnya.

Namun, Josua mencatat bahwa pasar EV saat ini masih didominasi konsumen kelas menengah atas yang umumnya bukan pembeli mobil pertama. Kelompok ini relatif lebih resilien terhadap tekanan ekonomi sehingga lebih siap beralih ke kendaraan listrik.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penghentian insentif berpotensi mendorong kenaikan harga EV dan menekan permintaan. Kondisi tersebut dapat memperburuk kinerja industri otomotif yang masih berada dalam tren penurunan penjualan tahunan.

“Jika insentif dihentikan tanpa skema pengganti, akan ada kenaikan harga dan penurunan penjualan EV. Ini akan berdampak pada kinerja industri otomotif tahun ini,” kata Josua.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Tak Ada Insentif Motor Listrik 2026, Industri Diminta Adaptif

Ia menilai skema insentif yang paling realistis adalah pemberian insentif bersyarat, misalnya hanya untuk produsen yang telah memenuhi ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) atau bagi pembelian mobil pertama.

Menurut Josua, meski ruang fiskal pemerintah terbatas, dukungan terhadap kendaraan listrik tetap relevan karena segmen konsumen EV dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Insentif EV tetap perlu didukung dengan pengaturan yang lebih tepat sasaran. Insentif bersyarat bisa menjadi solusi win-win, mendorong investasi dalam negeri sekaligus menjaga ruang fiskal pemerintah,” pungkasnya.

Baca Juga: Insentif Jadi Penentu Laju Penjualan Kendaraan Listrik di Tahun 2026

Selanjutnya: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Rabu (11/2/2026), Simak Rekomendasi Saham Berikut

Menarik Dibaca: 15 Rekomendasi Buah untuk Diet agar Berat Badan Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×