Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - KUDUS. Cuaca buruk yang berujung pada bencana Sumatra sejak akhir tahun lalu turut menyusutkan produksi kopi.
Pasalnya, pengamat kopi sekaligus coffee enthusiast Farchan Noor Rachman mengatakan, ketiga provinsi yang dilanda bencana tersebut merupakan wilayah produsen kopi terbesar di Tanah Air. Gabungan Aceh yang memproduksi kopi gayo, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, disebut berkontribusi 60% ke pasokan kopi nasional.
Maka tak heran, Farchan menuturkan, produksi yang terganggu akibat bencana turut meningkatkan harga kopi domestik. Ia mencontohkan, sejak November 2025, harga kopi Arabica secara umum naik 20% hingga 30% dari harga normal. Dus, lanjutnya, kedai kopi mau tak mau turut mengerek harga.
“Sekarang harga roasted beans untuk specialty itu, sudah susah mencari yang di bawah Rp 320.000. Kalau tahun lalu, mungkin masih bisa menemukan,” ujarnya kepada Kontan di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Fore Kopi (FORE) Bidik Ekspansi Lebih dari 60 Gerai pada 2026
Bahkan, ia menyebut saat ini kopi impor dari Brasil justru bisa lebih murah dibandingkan kopi lokal.
Lebih lanjut, Farchan menjelaskan, nilai tambah tertinggi dalam rantai bisnis kopi sangat bergantung pada kualitas sejak hulu, yakni di tingkat petani.
Menurutnya, apabila petani mampu menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi, maka harga di hilir otomatis ikut terdongkrak.
Farchan mencermati sektor hulu memiliki risiko yang lebih besar, terutama terkait faktor cuaca dan kondisi alam. Risiko tersebut, di antaranya adalah gagal panen hingga penurunan kualitas biji kopi akibat banjir dan cuaca ekstrem.
Sementara itu, dari sisi pengolahan seperti kedai kopi, risiko dinilai lebih fleksibel. Sebab, pelaku usaha di hilir masih memiliki banyak opsi sourcing bahan baku apabila kualitas kopi dari satu daerah menurun.
Baca Juga: Eksportir Soroti Lonjakan Harga Kopi dan Desak Pemerintah Dorong Produksi
“Kalau kami di kedai kopi, opsinya lebih banyak. Kalau dari petani A enggak ada, bisa sourcing ke yang lain,” ujarnya.
Persaingan Bisnis Kopi
Dihubungi terpisah, setali tiga uang, Sekretaris Jenderal Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Gusti Laksamana menilai, kenaikan harga kopi yang terjadi di tengah tumbuhnya permintaan kopi memang saat ini jadi tantangan yang membayangi pelaku usaha.
Maka itu, Gusti bilang, tantangan ini membuat para pelaku usaha kopi harus berpikir keras untuk menyesuaikan harga jual atau diversifikasi cara jual seefektif mungkin.
SCAI memandang, walaupun di tengah pertumbuhan gerai yang masif, daya saing bisnis tidak dibangun lewat perang harga. Alih-alih, memupuk daya saing dapat dilakukan melalui diferensiasi yang jelas, kualitas yang konsisten, edukasi konsumen, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta keterlibatan aktif dalam ekosistem kopi Indonesia.
“Dengan begitu, ekspansi kedai kopi pada tahun 2026 ini pun masih realistis jika didukung juga dengan strategi fokus pada pengalaman pelanggan dan adaptasi terhadap permintaan lokal,” ujar Gusti kepada Kontan beberapa waktu lalu.
Selanjutnya: Target Pertumbuhan 8%, Perlu Investasi Besar, Transparansi Jadi Salah Satu Kunci
Menarik Dibaca: 12 Sayur yang Bagus untuk Diet agar Berat Badan Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













