Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menilai perkembangan waralaba lokal masih tertinggal dibandingkan waralaba asing.
Padahal, Indonesia memiliki banyak usaha daerah yang dinilai layak dikembangkan menjadi jaringan waralaba nasional.
Ketua AFI Anang Sukandar mengatakan, jumlah merek waralaba lokal tidak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, model kemitraan justru tumbuh lebih pesat.
Baca Juga: POP MART Resmikan Gerai Pertama di Medan, Perluas Ekspansi ke Sumatera
"Kalau saya lihat angka-angkanya, waralaba asing masih jauh lebih banyak. Jumlah yang lokal atau homegrown, yang memang berasal dari Indonesia, tidak lebih dari 130 merek. Dari 2017 sampai sekarang jumlahnya tidak bertambah signifikan. Malahan yang bertambah justru kemitraan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (3/6/2026).
Menurut Anang, kondisi tersebut tidak terlepas dari masih banyaknya pelaku usaha maupun masyarakat yang menyamakan konsep kemitraan dengan waralaba. Padahal, kedua model bisnis tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
"Menurut saya itu tidak tepat. Sekarang malah bertambah parah. Banyak yang memanfaatkan istilah kemitraan seolah-olah mendekati waralaba, padahal konsepnya berbeda," katanya.
Baca Juga: Ride-Hailing dan OTA Masuk Model Bisnis PMSE, Ekonom Usulkan UU Ekonomi Digital
Anang menjelaskan, waralaba merupakan sistem bisnis yang telah teruji, memiliki standar operasional yang jelas, konsep pemasaran yang matang, serta keunikan yang dapat direplikasi oleh mitra usaha.
Sementara kemitraan pada dasarnya merupakan bentuk kerja sama usaha yang lebih sederhana dan tidak selalu memiliki sistem bisnis baku seperti waralaba.
"Waralaba itu konsep pemasaran dan strategi penjualan yang jauh lebih lengkap dan lebih unggul. Ada sistem yang sudah terbukti berhasil dan memiliki keunikan," ujarnya.
Dia menilai banyak model kemitraan yang berkembang saat ini belum tentu memiliki keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Berbeda dengan waralaba yang dibangun berdasarkan sistem dan standar yang telah terbukti berjalan.
Baca Juga: Superior Porcelain Sukses Bidik Pasar Granite Tile Premium lewat Keramika Expo 2026
Menurut Anang, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk melahirkan lebih banyak merek waralaba lokal, terutama dari sektor makanan dan minuman (F&B).
Ia menyebut Indonesia memiliki beragam kuliner khas daerah mulai dari Aceh, Minang, Palembang, Sunda, Jawa, Bali, Bugis hingga Manado yang berpotensi dikembangkan menjadi jaringan waralaba.
"Kenapa tidak itu yang didorong pemerintah? Kita punya kekayaan kuliner yang luar biasa," ujarnya.
Selain kuliner, banyak usaha daerah yang dinilai telah memenuhi syarat untuk diwaralabakan.
Menurutnya, usaha yang telah beroperasi lebih dari lima tahun dan terbukti sukses umumnya memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi waralaba.
Baca Juga: ICX 2026 di Surabaya Bukukan Transaksi Lebih dari Rp 3 Miliar &Gaet 16.500 Pengunjung
Anang mencontohkan sejumlah usaha kuliner khas Bogor seperti Roti Unyil, Asinan Bogor, dan Soto Mie Bogor yang dinilainya memiliki potensi untuk berekspansi melalui model waralaba.
"Kalau usaha itu sudah berjalan bertahun-tahun dan berhasil, biasanya sudah punya keunikan yang bisa diwaralabakan," katanya.
Ia juga menyoroti dominasi merek asing di pusat-pusat perbelanjaan modern. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan lebih besar kepada pelaku usaha lokal agar mampu bersaing.
Salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan adalah memberikan insentif bagi pengelola pusat perbelanjaan untuk menyediakan ruang bagi merek-merek kuliner Indonesia.
"Harus ada keberpihakan kepada merek lokal supaya mereka bisa masuk dan berkembang di pusat-pusat perbelanjaan," ujarnya.
Baca Juga: Antusiasme Tinggi, Transaksi Indonesia Coffee Expo 2026 Surabaya Tembus Rp 3 Miliar
Anang menambahkan, sektor makanan dan minuman masih menjadi kontributor terbesar industri waralaba secara global dengan porsi mencapai sekitar 50%-55% dari total merek waralaba yang beroperasi.
Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya fokus mendorong lahirnya berbagai model kemitraan baru, tetapi juga membantu usaha-usaha lokal yang telah terbukti berhasil untuk naik kelas menjadi waralaba nasional.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi merek asing, melainkan juga mampu melahirkan lebih banyak waralaba lokal yang kuat dan berdaya saing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













