Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memberikan tarif Bea Masuk 0% atas impor barang tertentu dinilai mampu menekan biaya produksi sejumlah industri. Namun, efektivitasnya diperkirakan berbeda di setiap sektor.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menilai, kebijakan tersebut memberikan dampak positif bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, seperti sektor Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat dan petrokimia.
“Sebagai stimulus akan terjadi mix effect. Kebijakan ini memang responsif menurunkan biaya input industri yang selama ini masih bergantung pada impor,” ujar Bhima kepada KONTAN, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, industri MRO masih mengimpor sebagian besar suku cadang, komponen, hingga material khusus yang belum diproduksi di dalam negeri. Sementara industri petrokimia juga masih mengandalkan LPG sebagai salah satu bahan baku produksi.
Baca Juga: Setelah Bea Masuk 0%, Industri Plastik Masih Menanti Kepastian HGBT
Bhima mengatakan, manfaat terbesar dari kebijakan ini akan dirasakan industri penerbangan. Pasalnya, biaya material dan suku cadang mencapai sekitar 70% dari total biaya perawatan pesawat.
“Penurunan bea masuk akan langsung memberikan angin segar bagi struktur biaya perusahaan penerbangan,” katanya.
Ia menambahkan, pelaku usaha yang diperkirakan paling diuntungkan adalah maskapai penerbangan, perusahaan MRO, hingga penyedia suku cadang pesawat.
Baca Juga: Bea Masuk LPG 0%, Kemenperin: Kabar Baik untuk Industri Petrokimia RI
Meski demikian, Bhima mengingatkan bahwa bea masuk hanya salah satu komponen biaya impor. Menurutnya, biaya logistik, asuransi, biaya pelabuhan, dwelling time, hingga pelemahan nilai tukar rupiah justru masih menjadi beban yang lebih besar bagi industri.
“Kalau hambatan struktural lainnya belum diperbaiki, insentif tidak banyak membantu,” ucapnya.
Selain itu, pemerintah juga diminta memastikan fasilitas bea masuk hanya diberikan untuk barang yang memang belum dapat diproduksi di dalam negeri agar tidak menghambat perkembangan industri komponen lokal.
Baca Juga: Pembebasan Bea Masuk LPG 0% Dinilai Industri Tak Otomatis Tekan Biaya Produksi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














