Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyebutkan biaya transaksi logistik telah terkerek hingga 15% akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang per Senin (8/6/2026) telah ditutup di level Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sekretaris Jenderal ALFI, Trismawan Sanjaya mengatakan, kurs rupiah yang terus melemah saat ini berdampak pada kegiatan logistik, terutama bisnis forwarding untuk transaksi perdagangan internasional.
"Kenaikan biaya transaksi logistik akibat lemahnya kurs saat ini mencapai 15%, belum lagi kenaikan premi asuransi, war surcharge, harga minyak akibat perang Iran vs AS," ungkapnya ke Kontan, Senin (8/6/2026).
Baca Juga: Antrean Kapal Mengular di Pelabuhan, Biaya Logistik Naik Meski Ekonomi Tumbuh
ALFI menyoroti, pelaku usaha logistik dan forwarder harus menyediakan tambahan modal kerja hingga 3,5 kali lipat dibandingkan saat kurs rupiah masih di kisaran Rp 16.000 per dolar AS, agar dapat membiayai sea freight, asuransi, dan ongkos lainnya dalam aktivitas ekspor-impor.
Menurut Trismawan, akan sangat berat bagi industri logistik dan forwarder untuk bisa bertahan jika pelemahan rupiah yang cukup dalam ini berkepanjangan hingga 6 bulan ke depan.
Apalagi, lanjutnya, tak semua pelaku usaha di industri ini mudah menerapkan strategi lindung nilai (hedging).
Baca Juga: Biaya Logistik Tinggi, Pemerataan Industri Dinilai Jadi Solusi
"Bahkan tidak semua pelaku usaha dapat manfaatkan fasilitas hedging, jika tidak ada lagi aset yang dapat dijadikan jaminan untuk tambahan pinjaman modal kerja dan/atau bayar asuransi hedging," imbuh Trismawan.
Pun, kenaikan tarif dinilai belum dapat diterapkan oleh pelaku usaha logistik dan forwarder lantaran pemilik barang juga mengalami tekanan lebih berat.
Pemilik barang saat ini disebut telah mencoba mengurangi kapasitas produksinya, serta melakukan efisiensi biaya logistik agar tetap dapat berdaya saing.
"Penyesuaian tarif belum efektif dapat berlaku ke pemilik barang sejak kenaikan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz," tandasnya.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Tekan Industri Logistik, Efisiensi Jadi Andalan Sebelum Kerek Tarif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













