Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan mitra global Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia.
Ketiga pihak menandatangani framework agreement sebagai langkah awal program hilirisasi nikel dan investasi industri baterai bernilai sekitar US$ 6 miliar.
Proyek ini menargetkan kapasitas fasilitas baterai hingga 20 gigawatt hour (GWh), menyerap ribuan tenaga kerja, dan memperkuat struktur industri nasional.
Baca Juga: Gaikindo Pasang Target Penjualan Mobil Tembut 850.000 Unit pada Tahun 2026
Kolaborasi ini melibatkan HYD Investment Limited, konsorsium Zhejiang Huayou dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.
Proyek dirancang membangun rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pengelolaan nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi baterai siap pakai.
Direktur Utama IBI, Aditya Farhan Arif, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai terintegrasi global.
Baca Juga: Ekspansi Bisnis, Metrodata Electronics (MTDL) Kembangkan Portofolio Layanan Cloud
IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan
“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem industri nasional bernilai tambah tinggi,” ujar Aditya di Jakarta, Jumat (30/01/2026).
Dari sisi hulu, Antam menekankan perannya sebagai penyedia bahan baku strategis yang dikelola secara bertanggung jawab.
Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto mengungkapkan, kerja sama ini sejalan dengan mandat Antam dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional.
Lebih lanjut, Antam memandang kolaborasi ini sebagai bagian dari transformasi strategis untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri.
“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, kami berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” ujar Untung.
Presiden Direktur Zhejiang Huayou Cobalt, Chen Xuehua menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global.
“Melalui kerja sama ini, kami berkomitmen menghadirkan teknologi, pengalaman industri, serta praktik keberlanjutan global untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” ujar Chen.
Adapun, framework agreement menjadi dasar penyusunan studi kelayakan dan perjanjian definitif yang akan dilakukan bertahap, dengan prinsip tata kelola yang baik, keberlanjutan, dan kepentingan strategis nasional.
Selanjutnya: Gaikindo Pasang Target Penjualan Mobil Tembut 850.000 Unit pada Tahun 2026
Menarik Dibaca: Bitcoin cs Tiarap karena Sikap The Fed, Investor Disarankan Lakukan Ini!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













