Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) bekerja sama dengan Universitas Bunda Mulia (UBM) untuk menyiapkan talenta muda yang sesuai dengan kebutuhan industri retel, sekaligus menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Keduanya telah meneken nota kesepahaman (MoU) pada Rabu (9/9/2026).
Perkembangan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah menyasar ke berbagai sektor, termasuk industri ritel. AI dan Data Science dapat membantu industri ini menjadi lebih efisien, cepat, akurat, dan aman, sehingga perusahaan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengoptimalkan sumber daya.
Ketua Umum APRINDO Solihin mengatakan, olaborasi ini menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem talenta ritel yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Konsumsi RI Tumbuh 5,6%, HIPPINDO Dorong Daya Saing Industri Ritel
Menurut Solihin, industri ritel membutuhkan talenta yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga profesional dan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi serta dinamika bisnis yang semakin cepat.
APRINDO memiliki akses langsung terhadap kebutuhan dan tantangan industri, sementara UBM memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan. Sehingga, sinergi keduanya diharapkan mampu mempertemukan kebutuhan tenaga kerja industri dengan talenta yang dihasilkan dunia pendidikan.
“Industri memiliki kebutuhan dan persoalan nyata, sementara kampus memiliki talenta dan pengetahuan. APRINDO menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya,” ujar Solihin, Rabu (9/9/2026).
Solihin mengatakan, perkembangan industri ritel yang semakin pesat membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi spesifik di bidang ritel kian besar.
Baca Juga: Sektor Bisnis F&B Dominasi Tenant Baru di Ritel Berkonsep Green Space Jakarta
Selama ini, kebutuhan tenaga kerja di sektor ritel banyak dipenuhi lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Solihin menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri ritel membutuhkan kompetensi lintas bidang, sekaligus memperkuat kebutuhan akan pendidikan yang secara khusus membekali talenta dengan pemahaman mengenai industri ritel.
Berdasarkan data APRINDO, sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar kedua terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia setelah industri pengolahan. Pada 2025, kontribusinya mencapai 13,17% terhadap PDB nasional, sementara perdagangan besar dan eceran tumbuh 5,49%.
Melihat besarnya potensi tersebut, APRINDO bersama Universitas Bunda Mulia (UBM) menjajaki pengembangan program S1 Manajemen Ritel yang disusun berdasarkan kebutuhan industri.
Program ini diarahkan untuk mencetak talenta yang sejak awal memiliki pemahaman khusus mengenai industri ritel, bukan sekadar lulusan dari disiplin umum yang kemudian berkarier di sektor tersebut.
Baca Juga: Joysparks Group Siap Ekspansif di Bisnis Ritel
Kolaborasi ini juga tidak hanya menyasar lulusan baru. APRINDO dan UBM menyiapkan pengembangan kompetensi bagi pekerja yang sudah berada di industri melalui tiga jenjang, yakni Short Course Specialist, Retail Talent Academy, dan dalam jangka panjang S1 Manajemen Ritel.
“Dalam jangka pendek, kita akan membuat program future leader yang akan disiapkan sebagai sumber daya kompeten bagi para pengusaha ritel, terutama anggota APRINDO,” kata Solihin.
Dengan model tersebut, kata Solihin, pengembangan SDM tidak hanya berfokus pada rekrutmen talenta baru, tetapi juga mencakup upskilling dan reskilling bagi pekerja yang sudah berada di industri.
Salah satu kekuatan kolaborasi APRINDO dan UBM adalah keterlibatan langsung pelaku industri dalam proses pembelajaran. Berbagai persoalan dan perkembangan ritel dapat dibawa ke lingkungan akademik, sehingga materi tidak hanya berbasis teori, tetapi juga studi kasus dan pengalaman praktis.
Topik pembelajaran dapat mencakup digitalisasi ritel, omnichannel, supply chain, merchandising, customer experience, keberlanjutan, AI, analisis data, hingga perubahan perilaku konsumen. Pengalaman puluhan tahun Djoko Susanto sebagai pelaku industri juga dapat menjadi living knowledge bagi mahasiswa.
Baca Juga: Sektor Bisnis F&B Dominasi Tenant Baru di Ritel Berkonsep Green Space Jakarta
Solihin menilai model ini berpeluang dikembangkan secara nasional karena jaringan anggota APRINDO tersebar di berbagai daerah. Dengan pembelajaran hybrid, praktisi dari Surabaya, Medan, Makassar, Bali, Papua, dan wilayah lainnya dapat terlibat tanpa harus hadir secara fisik di Jakarta.
Jika dikembangkan secara konsisten, kolaborasi APRINDO dan UBM berpotensi menjadi pusat pengetahuan ritel Indonesia atau Indonesia Retail Knowledge Hub.
Di saat yang sama, UBM meluncurkan The UBM Research Center for Data Science & AI, pusat riset yang fokus mengembangkan teknologi Data Science dan AI untuk menjawab kebutuhan nyata industri dan masyarakat.
Kehadiran pusat riset ini memperkuat posisi UBM sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang memiliki pusat penelitian Data Science dan AI berbasis kolaborasi internasional.
Research center ini menjadi pusat penelitian dan pengembangan AI serta Data Science yang juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mitra internasional. Dalam pengembangannya, UBM bekerja sama dengan sejumlah universitas dan industri dari dalam maupun luar negeri.
Kolaborasi tersebut antara lain melibatkan universitas di China seperti Guangdong Polytechnic Normal University (GPNU), universitas di Taiwan seperti Chung Cheng University, serta mitra dari Singapura dan Google Indonesia. Di tingkat nasional, UBM juga menjalin kerja sama dengan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Alfamart.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














