kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

APSyFI: Antidumping AS jadi hambatan baru bagi ekspor industri TPT


Jumat, 22 Oktober 2021 / 13:51 WIB
APSyFI: Antidumping AS jadi hambatan baru bagi ekspor industri TPT
ILUSTRASI. Antidumping AS terhadap benang polyester dari Indonesia jadi hambatan baru bagi ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT).


Reporter: Vina Elvira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) menyatakan, keputusan antidumping Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) terhadap benang polyester dari Indonesia, menjadi hambatan baru bagi kinerja ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia. Terlebih, saat ini industri TPT tengah berupaya menggenjot pasar ekspor, termasuk ke negeri Paman Sam tersebut. 

Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi secara resmi dari pemerintah terkait antidumping benang polyester itu. Namun memang beberapa perusahaan terkait sudah memberi laporan ke APSyFI.

"Tapi kami sudah dapat informasi dari perusahaan-perusahaan terkait," kata Redma kepada Kontan.co.id, Kamis (21/10). 

Baca Juga: Harga kapas dunia melonjak, Kemenperin targetkan substitusi impor 35% tahun depan

Lebih jauh, dia mengatakan, tambahan pengenaan bea masuk dengan persentase yang cukup besar, membuat benang filament menjadi lebih mahal dan menjadi beban importir di AS. Dengan adanya biaya tambahan ini, Redma mengatakan, akan membuat para importir berpikir ulang untuk membeli produknya dari produsen asal Indonesia. 

"Meski untuk beberapa jenis produk spesifik sepertinya ekspornya akan tetap berlanjut namun akan terjadi tambahan biaya," tuturnya. 

Menurut Redma, kontribusi ekspor TPT terhadap total nilai produksi industri mencapai sekitar 30%. Sedangkan share ekspor ke AS angkanya berkisar 35% dari total nilai ekspor industri TPT.

Dengan demikian, untuk terus menggenjot pertumbuhan pasar ekspor, industri TPT pun kini fokus pada ekspansi untuk mengembangkan produk sesuai dengan keinginan para buyer yang saat ini lebih mengarah ke green dan functional product. 

"Konsep sustainability dan circular economy sangat jadi pertimbangan buyer," kata Redma. 

Selanjutnya: Harga kapas dunia melejit, asosiasi jamin tidak ada kenaikan harga di konsumen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×