Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat utilisasi dan volume produksi industri keramik nasional berpotensi kembali mendaki. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memetakan peluang dan tantangan yang membayangi performa industri pada tahun 2026.
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengungkapkan kinerja industri keramik membaik pada tahun 2025. Rata-rata utilisasi meningkat dari 66% pada tahun 2024 menjadi 73% pada 2025. Peningkatan utilisasi ini mendongkrak volume produksi sekitar 62 juta m² menjadi 474,5 juta m² sepanjang tahun lalu.
Hasil itu mencerminkan pertumbuhan sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. "Sebagai catatan, Indonesia adalah satu-satunya negara produsen keramik baik di Asia, Eropa maupun Amerika yang mampu mencatat pertumbuhan tingkat utilisasi produksi dan kapasitas produksi pada tahun 2025," kata Edy saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (6/1/2026).
Edy menyoroti sejumlah faktor yang mendorong kinerja industri keramik pada tahun 2025, terutama dukungan dari kebijakan pro-industri yang menahan derasnya produk impor. Kebijakan proteksi tersebut mencakup anti-dumping, safeguard keramik dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib.
Baca Juga: Kadin Nilai Prospek FDI High Tech Indonesia Masih Kuat pada 2026
Kebijakan proteksi untuk industri keramik telah memantik skema kerja sama Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dengan produsen keramik lokal. Skema OEM membawa para importir bekerja sama dengan pabrik dalam negeri untuk memproduksi keramik dengan merek sendiri.
Menurut Edy, industri keramik nasional menawarkan sejumlah kelebihan yang membuat konsep OEM diminati. Pertama, kepastian pasokan dan ketepatan waktu pengiriman, sehingga tidak ada keterlambatan akibat proses logistik internasional.
Kedua, harga lebih stabil karena tidak dipengaruhi fluktuasi kurs valuta asing. Ketiga, pelayanan purna jual dan garansi kualitas yang tidak diperoleh jika melakukan impor langsung.
"Keunggulan tersebut membuat ekosistem industri keramik nasional semakin kompetitif, sekaligus memperkuat substitusi impor di sektor penunjang pembangunan dan properti. Asaki menilai hal ini menunjukkan efektivitas sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan pelaku pasar," ungkap Edy.
Proyeksi Tahun 2026
Asaki memproyeksikan pertumbuhan utilisasi dan volume produksi akan berlanjut pada tahun ini. Menurut proyeksi Asaki, tingkat utilisasi nasional akan menyentuh level 80%, yang akan mendongkrak volume produksi sebanyak 13,17% menjadi sekitar 537juta m².
Edy bilang, tren kenaikan tingkat utilisasi tampak dari performa pada akhir tahun 2025. Pada kuartal IV-2025, rata-rata utilisasi naik secara bulanan dari Oktober (75%), November (76%) dan Desember (78%).
Baca Juga: Perhapi Ungkap Kementerian ESDM Perlu Pastikan Sistem RKAB Rampung Kuartal I-2026
Asaki bahkan melihat potensi tingkat utilisasi bisa menembus level 90%, jika permintaan dari pasar dalam negeri naik cukup signifikan. Pasar domestik memang menjadi andalan para produsen keramik, lantaran kontribusi dari ekspor masih mini, yakni sekitar 3% - 4% dari total produksi.
Edy pun menyoroti Program 3 juta unit rumah. Apabila program ini terealisasi sesuai target, maka berpotensi mendongkrak utilisasi industri keramik hingga ke level 96%. Hanya saja, Edy memberikan catatan bahwa ada sederet tantangan yang masih membayangi industri keramik nasional.
Kendala tersebut membuat tingkat utilisasi industri keramik nasional belum optimal. Rata-rata utilisasi sepanjang tahun 2025 sebesar 73%. Meski meningkat ketimbang 2024, tapi masih belum optimal sesuai rentang target Asaki pada level 70% - 75%.
Edy pun menyoroti persoalan pasokan dan harga gas industri. Apalagi, sempat terjadi keadaan kahar (force majeure) yang membuat pasokan gas di Jawa Bagian Barat tersendat pada pertengahan hingga akhir Agustus 2025.
Edy mengungkapkan rata-rata industri keramik yang menerima pasokan sesuai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per MMBTU hanya sekitar 60% di Jawa Bagian Barat. Sementara di Jawa Bagian Timur hanya 50% - 55%.
Selebihnya, industri harus membayar surcharge dengan harga sekitar US$ 15,4 per MMBTU. Selain harga gas dari sisi operasional, secara bisnis, gangguan dari produk impor masih membayangi industri keramik.
Asaki mencatat pada tahun 2025 ada lonjakan impor yang signifikan dari Malaysia dengan kenaikan sekitar 210%, India (55%) dan Vietnam (32%). Asaki pun akan bekerjasama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menginisiasi penyelidikan dumping oleh India.
Selain itu, Asaki sedang mengumpulkan data terkait indikasi transhipment produk China melalui Malaysia. Tantangan lainnya adalah kelancaran pasokan bahan baku, terutama pasca pencabutan sejumlah izin di Jawa Barat.
"Asaki juga membutuhkan perhatian Pemerintah perihal kelancaran dan kecukupan bahan baku tanah untuk produksi keramik," tandas Edy.
Baca Juga: Perkuat Infrastruktur Digital, BNI Salurkan Kredit Rp 657,8 Miliar ke ION Network
Selanjutnya: DSI Sampaikan Permohonan kepada PPATK dan OJK agar Pemblokiran Rekening Dapat Dibuka
Menarik Dibaca: Hujan Pagi Lanjut Sore Hari, Cek Prakiraan BMKG Cuaca Besok (7/1) di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













