Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai prospek Indonesia dalam menarik foreign direct investment (FDI) sektor high tech, khususnya data center dan artificial intelligence (AI) masih kuat pada 2026.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, mengatakan daya tarik utama Indonesia berasal dari pertumbuhan permintaan komputasi dan penyimpanan data yang sangat cepat, ditopang oleh besarnya pasar domestik dan ekspansi ekonomi digital.
“Indonesia juga diuntungkan oleh tren regional: hub ‘lama’ seperti Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan daya listrik, sehingga sebagian investasi mencari lokasi alternatif di kawasan,” ujar Erwin, kepada Kontan.co.id, Selasa (6/1).
Baca Juga: Moody's Tetapkan Peringkat Baa2 dengan Prospek Stabil untuk Sukuk Indonesia
Menurut Kadin, daya tarik utama Indonesia bagi investor high tech tidak hanya terletak pada skala pasar, tetapi juga pada peningkatan kebutuhan cloud dan AI yang terus berlanjut.
Indonesia juga dinilai memiliki peluang membangun ekosistem regional, terutama di kawasan strategis seperti Batam yang berdekatan dengan Singapura.
Investor global, lanjut Erwin, juga melihat potensi dari pipeline proyek yang solid. Kapasitas data center nasional diproyeksikan terus meningkat, seiring ekspansi infrastruktur digital.
“Sebagian laporan memproyeksikan kapasitas IT terpasang Indonesia sekitar 520 MW pada akhir 2025,” jelasnya.
Meski prospeknya menjanjikan, Kadin mencatat sejumlah tantangan utama yang kerap disampaikan investor asing.
Salah satunya adalah kepastian pasokan listrik dan akses energi berbiaya kompetitif, termasuk opsi energi terbarukan untuk memenuhi komitmen green data center.
Baca Juga: Belajar Mengenal Sejarah Bank Indonesia yang Wajib Kamu Ketahui
Selain itu, aspek perizinan dan kepastian timeline proyek lintas instansi juga menjadi perhatian, termasuk regulasi data dan keamanan siber yang mempengaruhi penempatan data dan operasional.
Faktor lain yang turut dipertimbangkan investor adalah konektivitas, ketersediaan backhaul fiber, rute kabel bawah laut, serta kesiapan talenta digital.
Dalam peta investasi data center Asia Tenggara, Kadin memposisikan Indonesia sebagai fast growing emerging hub. Jakarta masih menjadi hotspot utama, sementara Batam berkembang pesat sebagai lokasi alternatif karena kedekatannya dengan Singapura dan status kawasan tertentu.
Kadin pun mendorong agar investasi data center tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga disertai transfer kemampuan ke kontraktor lokal, vendor komponen, serta talenta operasional dalam negeri.
Untuk mencapai target FDI high tech dan mendorong masuknya FDI berkualitas pada 2026, KADIN merekomendasikan sejumlah kebijakan prioritas.
Di antaranya adalah kepastian kesiapan listrik (power readiness), percepatan interkoneksi, serta skema akses energi terbarukan bagi proyek strategis.
Baca Juga: Bos Helios Capital Beberkan Prospek Family Office di Indonesia
Kadin juga menekankan pentingnya perizinan satu pintu dengan service level agreement (SLA) yang jelas, kepastian regulasi data dan keamanan siber yang pro-inovasi, serta pemberian insentif yang bersifat “berbalas”.
“Insentif perlu diberikan bila ada komitmen serapan tenaga kerja, penguatan vendor lokal, dan peningkatan kompetensi,” kata Erwin.
Selanjutnya: Perkuat Infrastruktur Digital, BNI Salurkan Kredit Rp 657,8 Miliar ke ION Network
Menarik Dibaca: Hujan Pagi Lanjut Sore Hari, Cek Prakiraan BMKG Cuaca Besok (7/1) di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













