Reporter: Genta Disa | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN perlu mengubah citra sebagai destinasi wisata murah.
Seiring meningkatnya kekuatan ekonomi kawasan, ASEAN dinilai perlu membangun persepsi baru sebagai tujuan wisata yang menawarkan pengalaman dan kekayaan budaya.
Dekan Sekolah Manajemen Perhotelan dan Pariwisata Sunway University Malaysia, Daniel Chong Ka Leong mengatakan, perubahan citra tersebut penting dilakukan agar persepsi masyarakat internasional terhadap negara-negara ASEAN tidak hanya bertumpu pada keterjangkauan biaya perjalanan.
Baca Juga: Linknet (LINK) Bidik Peluang Bisnis dari Jaringan Merchant Mitra Bukalapak
Dalam keynote speech pada diskusi panel bertajuk "Understanding Cultural Diversity" di ASEAN-Korea Roundtable in Tourism 2026, Jakarta, Jumat (6/11/2026), Daniel menyebut produk domestik bruto (PDB) ASEAN diperkirakan mencapai US$ 3,8 triliun pada 2025.
Dengan skala ekonomi tersebut, ASEAN diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat dunia sebagai satu blok pada 2030.
Menurut Daniel, peningkatan kekuatan ekonomi kawasan perlu diikuti upaya mengedukasi generasi muda dan mengubah persepsi wisatawan terhadap ASEAN.
"Realitasnya adalah blok ASEAN pada tahun 2025 diperkirakan mencapai PDB sebesar US$ 3,8 triliun. Ini berarti pada tahun 2030, kita akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia secara blok. Jadi saya rasa kita tidak lagi bisa dianggap 'murah'. Jika faktor 'murah' tidak lagi menjadi alasan utama, kita perlu mereposisi dan mengedukasi para pemuda dengan benar," ujarnya.
Daniel menjelaskan, citra sebagai destinasi murah masih menjadi salah satu stereotipe utama masyarakat muda Korea Selatan terhadap ASEAN.
Baca Juga: Sektor Pertambangan Tumbuh 0,91%, Tapi Aktivitas Perdagangan Komoditas Belum Merata
Selain keterjangkauan harga, kawasan Asia Tenggara juga kerap dipersepsikan sebagai wilayah berkembang dengan kesiapan infrastruktur yang belum merata, serta masih memiliki persoalan kebersihan dan keselamatan.
Menurut dia, persepsi tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara ASEAN untuk memperkuat daya tarik pariwisata di luar faktor harga.
Masyarakat ASEAN juga kerap diasosiasikan dengan tenaga kerja non-Korea yang bekerja di Korea Selatan.
Di sisi lain, persepsi mengenai kesenjangan kesiapan ekonomi dan infrastruktur masih memengaruhi pandangan masyarakat terhadap kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu, masyarakat ASEAN memiliki sejumlah stereotipe terhadap Korea Selatan. Negara tersebut kerap diasosiasikan dengan K-pop, drama Korea, budaya populer, bangunan modern, teknologi, serta komersialisasi kebudayaan.
Daniel menilai, popularitas budaya populer Korea Selatan belum tentu diikuti pemahaman yang mendalam mengenai tradisi dan nilai sosial masyarakatnya.
Salah satu contohnya adalah Kimjang, tradisi membuat kimchi bersama yang mengandung nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan tanggung jawab sosial.
Baca Juga: Lapangan Usaha Sektor Pertambangan Kembali Tumbuh 0,91%, Pemulihan Masih Perlu Diuji
"Realitasnya, budaya yang ada lebih dari sekadar K-pop. Ambil contoh minggu pertama bulan November yang merupakan musim penting untuk Kimjang (tradisi membuat kimchi). Bagi anak-anak saya, kimchi mungkin hanya sekadar makanan pendamping. Namun Kimjang memiliki makna komunitas yang mendalam, kebersamaan, keluarga, dan tanggung jawab sosial," kata Daniel.
Tradisi Kimjang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Korea Selatan. Sementara itu, negara-negara anggota ASEAN secara keseluruhan memiliki sekitar 70 warisan budaya tak benda yang terdaftar di UNESCO. Vietnam tercatat memiliki 17 warisan, sedangkan Thailand memiliki 16 warisan.
Daniel mengatakan, popularitas budaya dapat menjadi pintu masuk untuk menarik wisatawan. Namun, promosi pariwisata perlu dilanjutkan dengan upaya memperkenalkan konteks sejarah dan nilai budaya di balik suatu destinasi.
Hal ini menjadi relevan karena wisatawan muda dari Generasi Z dan Generasi Alpha cenderung mengunjungi destinasi populer untuk menandai tempat yang telah mereka datangi, tetapi belum tentu memahami sejarah maupun nilai budaya di baliknya.
"Popularitas tidak selalu sebanding dengan pemahaman mendalam. Strategi paling mudah memang memanfaatkan popularitas yang ada," ujarnya.
Baca Juga: PLN Rombak Direksi, Arsyadany Jadi Dirjen di ESDM, Fahrur Rozy Pegang Dua Jabatan
Untuk memperkuat pemahaman lintas budaya, Daniel mendorong pengembangan program pertukaran pemuda ASEAN-Korea yang telah diformalkan sejak 1998. Dalam dua tahun mendatang, kerja sama tersebut akan memasuki peringatan 30 tahun.
Daniel memaparkan, populasi pemuda berusia 15-24 tahun di Korea Selatan mencapai sekitar 5 juta orang, sedangkan di ASEAN sekitar 100 juta orang.
Dengan perbandingan populasi sekitar 1:20, tingkat pertukaran pemuda kedua kawasan saat ini disebut telah mendekati rasio seimbang 1:1.
Ke depan, program pertukaran pemuda diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman berkunjung ke negara lain, tetapi juga memperdalam pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan negara tujuan.
"Jarak yang sebenarnya tidak diukur dari kilometer, melainkan dari tingkat pemahaman. Mari kita bersama-sama melangkah dari pengalaman budaya visual menuju pemahaman budaya yang bermakna," ujar Daniel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
