kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Lapangan Usaha Sektor Pertambangan Kembali Tumbuh 0,91%, Pemulihan Masih Perlu Diuji


Jumat, 06 November 2026 / 15:22 WIB
Lapangan Usaha Sektor Pertambangan Kembali Tumbuh 0,91%, Pemulihan Masih Perlu Diuji
ILUSTRASI. Lapangan usaha pertambangan dan penggalian tumbuh 0,91% secara tahunan pada kuartal III-2026. Membaik dari kontraksi di dua kuartal sebelumnya (DOK/ITMG)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor pertambangan dan penggalian mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah kembali mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal III-2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lapangan usaha pertambangan dan penggalian tumbuh 0,91% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026. Capaian ini berbalik dari dua kuartal sebelumnya yang mengalami kontraksi, masing-masing sebesar 2,14% pada kuartal I-2026 dan 1,64% pada kuartal II-2026.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menilai, pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi industri pertambangan setelah mengalami tekanan selama dua kuartal berturut-turut.

Meski demikian, pertumbuhan sebesar 0,91% masih tergolong terbatas sehingga belum cukup untuk menunjukkan pemulihan fundamental sektor pertambangan.

Baca Juga: PLN Rombak Direksi, Arsyadany Jadi Dirjen di ESDM, Fahrur Rozy Pegang Dua Jabatan

"Kita perlu lihat ke depan tren dan konsistensi pertumbuhan pada waktu yang akan datang," ujar Bisman kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).

Menurut Bisman, salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan sektor pertambangan pada kuartal III-2026 adalah mulai normalnya aktivitas produksi setelah sejumlah perusahaan melakukan penyesuaian kuota dan memperoleh persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Selain itu, perbaikan harga sejumlah komoditas dan produk pertambangan serta permintaan ekspor turut menopang pertumbuhan sektor tersebut.

Bisman menambahkan, dinamika harga dan permintaan global memiliki pengaruh cukup besar terhadap keputusan perusahaan untuk meningkatkan produksi. Hal ini terutama karena pasar seperti China dan India menjadi tujuan penting bagi komoditas unggulan Indonesia, termasuk batubara, nikel, dan sejumlah mineral lainnya.

Ketika harga dan permintaan global membaik, perusahaan memiliki insentif lebih besar untuk meningkatkan produksi maupun ekspor.

Meskipun demikian, Bisman menilai pertumbuhan pada kuartal III-2026 belum mencerminkan perbaikan fundamental industri pertambangan. 

"Indikator yg perlu dicermati itu seperti realisasi produksi, volume ekspor, investasi, penerimaan negara, dan penyerapan tenaga kerja," kata Bisman. 

Baca Juga: Menakar Prospek Industri Waralaba di Tengah Tekanan Biaya dan Perubahan Pasar

Ke depan, Bisman memperkirakan kinerja sektor pertambangan pada kuartal IV-2026 berpotensi membaik. Peluang pertumbuhan yang lebih tinggi terbuka apabila revisi RKAB telah efektif dan perusahaan mampu merealisasikan tambahan produksi.

Sementara itu, prospek pertambangan sepanjang 2027 masih akan dipengaruhi sejumlah faktor, terutama perkembangan permintaan global, harga komoditas, kebijakan kuota produksi, dan investasi di sektor pertambangan.

Adapun risiko yang perlu diwaspadai meliputi pelemahan permintaan global, volatilitas harga komoditas, kenaikan biaya produksi, serta ketidakpastian regulasi yang dapat memengaruhi keputusan investasi dan operasional perusahaan tambang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×