kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45994,16   -8,36   -0.83%
  • EMAS1.133.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Atasi Kelangkaan Rig Laut, Pertamina Hulu Energi (PHE) Komunikasi dengan SKK Migas


Rabu, 02 Agustus 2023 / 13:38 WIB
Atasi Kelangkaan Rig Laut, Pertamina Hulu Energi (PHE) Komunikasi dengan SKK Migas
ILUSTRASI. Direktur Eksplorasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Muharram Jaya Panguriseng, saat berkunjung ke Redaksi KONTAN di Jakarta, Selasa (1/8/2023). KONTAN/Panji Indra


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) saat ini sedang menjalin komunikasi dengan SKK Migas perihal masalah kelangkaan rig yang terjadi sebagai imbas pandemi Covid-19. 

Direktur Eksplorasi Pertamina Hulu Energi, Muharram Jaya Penguriseng menjelaskan, saat ini Pertamina sedang memaksimalkan utilisasi rig yang ada. 

“Namun yang agak repot ialah rig offshore (lepas pantai). Kami sudah diskusikan dengan SKK Migas untuk mencari jalan keluar,” ujarnya kepada Kontan.co.id di Jakarta, Selasa (1/8). 

Baca Juga: Pertamina Hulu Energi Kelola 7 Blok Migas Baru, Berapa Potensi Cadangannya?

Muharram mengakui saat ini agak kesulitan mendapatkan rig karena aktivitas pemboran lepas pantai sedang sangat tinggi. 

Layaknya teori ekonomi, ketika barang langka di saat permintaannya yang tinggi, harga rig melonjak tinggi dibandingkan dua tahun lalu, di masa pandemi Covid-19. 

Meski Muharram tidak bisa memberikan angka pasti kenaikan harga rig laut, dia memberikan gambaran, pada dua tahun silam harga sewa US$ 75.000 perhari namun saat ini harganya sudah di atas US$ 100.000 per hari. 

Muharram menjelaskan, saat ini di Indonesia pihaknya sempat menggunakan rig dari India dan China. 

“Jadi asal rig ini bisa dari mana saja dan hampir semua di manapun harga lagi mahal-mahalnya,” ujar dia. 

Sebelumnya, Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo menjelaskan, hingga saat ini pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan penyedia jasa sewa rig untuk melakukan pengadaan. Upaya ini sudah dilaksanakan sejak setahun lalu karena mempertimbangkan rencana jangka panjang SKK Migas mencapai target produksi yang telah ditetapkan.  

Datengin rig dan bikin rig tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sudah dikomunikasikan setahun lalu dan sebagian rig sudah terpenuhi, di tahun ini rig sudah jauh meningkat dibanding tahun lalu dan penyelesaian sumur lebih banyak,” jelasnya dalam konferensi pers capaian kinerja hulu migas semester I 2023, Selasa (18/7). 

Baca Juga: Kerek Produksi Migas, Pertamina Tajak Sumur Migas Non Konvensional di Blok Rokan

Di luar itu, SKK Migas juga berkoordinasi untuk melakukan pengadaan alat pengeboran bersama khusus untuk jenis rig yang sulit didapatkan. 

Misalnya , lanjut Wahju, pengadaan jack up rig di Saka sudah direncanakan untuk tiga tahun ke depan dan akan digunakan banyak KKKS di sana. 

Sebagai informasi, jack up rig adalah rig dengan platform yang dapat mengapung dan memiliki tiga atau empat kaki yang dapat dinaik-turunkan.

“Jadi pengadaan satu rig tapi digunakan bersama, cara ini terutama dilakukan untuk pengadaan yang bersifat unik dan susah. Jack up rig susah, gak banyak yang menggunakan,” ujarnya. 

Namun, untuk pengadaan rig yang umum digunakan seperti di Blok Rokan tidak perlu dilakukan bersama dengan KKKS lain karena relatif digunakan untuk jangka panjang. 

Sebagai tambahan informasi, Vice President Indonesian Petroleum Association (IPA), Ronald Gunawan menjelaskan fenomena kelangkaan rig ini merupakan buntut dari pandemi Covid-19 di mana pada 2020 kegiatan migas sempat menurun drastis. Kala itu, banyak rig di darat maupun laut yang “disimpan” (cold stake) di pelabuhan, galangan kapal, atau area yang ditentukan karena tidak digunakan. 

“Waktu itu juga harga minyak crash, banyak perusahaan stop pengeboran, jadi rig tidak terpakai, dan perawatannya tidak terlalu itu (dilakukan),” jelasnya dalam konferensi pers IPA Convex 2023 di Jakarta, Kamis (20/7). 

Namun, setelah aktivitas pengeboran migas kembali marak di 2021 dan 2022, rig tidak bisa langsung dioperasikan begitu saja. Perlu waktu untuk memesan material atau komponen pada rig. Ronald menceritakan, pengiriman material tersebut kadangkala baru datang tiga bulan hingga empat bulan lamanya. 

Persoalan inilah yang menjadi salah satu penyebab sulitnya mendapatkan rig saat ini. 

“Namun masalah ini bukan hanya kita (Indonesia) yang menghadapi, tetapi negara lain juga mengalami hal yang sama,” ujarnya. 

Baca Juga: Perusahaan Tambang Mulai Kurangi Emisi untuk Persiapan Perdagangan Karbon

Ronald mengungkapkan, kelangkaan rig yang terjadi saat ini turut berimbas pada naiknya harga sewa rig di lapangan. Namun sayang, dia tidak bisa buka-bukaan berapa tepatnya kenaikan harga sewa sekarang jika dibandingkan sebelum pandemi. 

Dia hanya memberikan gambaran, harga sewa rig lepas pantai (off-shore) naik jauh lebih tinggi dibandingkan rig darat (on-shore). 

“Rig off shore naiknya cukup tinggi karena permintaan besar dan kalau kita cari sekarang susah karena rig-nya terbatas,” ujarnya. 

Keterbatasan rig lepas pantai saat ini juga disebabkan karena wilayah Timur Tengah, khususnya di negara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) banyak membutuhkan rig. Alhasil permintaan di pasar tinggi, pasokannya terbatas, sehingga harga sewa menjadi naik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×