Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen rokok merk Esse, Korea Tomorrow & Global (KT&G) terus memperkuat bisnis manufakturnya di Indonesia. Perusahaan telah menggelontorkan investasi sekitar US$ 650 juta atau setara Rp 8,1 triliun untuk pembangunan pabrik kedua dan ketiga di Pasuruan, Jawa Timur.
Presiden KT&G Bang Kyung-man mengatakan pengoperasian penuh pabrik baru menjadi bagian dari investasi jangka panjang perusahaan di Indonesia.
“Beroperasinya pabrik baru kami secara penuh menjadi tonggak penting dalam mewujudkan komitmen investasi jangka panjang KT&G di Indonesia serta komitmen kami kepada masyarakat setempat di wilayah operasional perusahaan,” ujar Bang dalam peresmian pabrik di Pasuruan, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Pupuk Kaltim Pangkas Konsumsi Energi, Revamping Pabrik Ammonia Hemat Rp 228 Miliar
Dengan beroperasinya fasilitas baru tersebut, Indonesia menjadi salah satu dari lima basis manufaktur global KT&G bersama Korea Selatan, Rusia, Kazakhstan dan Turki. Keterhubungan antarbasis produksi tersebut ditujukan untuk menyesuaikan produksi dengan permintaan pasar serta meningkatkan efisiensi operasional.
Selain memperbesar kapasitas manufaktur, KT&G menyebut ekspansi fasilitas produksi turut membuka peluang bagi tenaga kerja dan perusahaan lokal. Keterlibatan tersebut telah dimulai sejak pembangunan pabrik melalui penggunaan tenaga kerja dan mitra setempat.
Sementara itu, Managing Director KT&G Indonesia Factories Kim Young Joo mengatakan investasi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar basis produksi di Indonesia sekaligus mendukung kebutuhan pasar ekspor.
"Sebesar US$ 650 juta sudah kami investasikan untuk pembangunan Pabrik 2 dan Pabrik 3," ujar Kim dalam keterangannya, Selasa (6/10).
Dengan beroperasinya tiga fasilitas produksi, total kapasitas produksi KT&G di Indonesia kini mencapai sekitar 35 miliar batang per tahun. Pabrik pertama memiliki kapasitas sekitar 14 miliar batang, sedangkan dua pabrik baru menambah kapasitas hingga sekitar 21 miliar batang per tahun.
Ekspansi tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Saat ini, sekitar 1.200 karyawan bekerja di tiga fasilitas produksi KT&G di Indonesia. Sekitar 500 di antaranya bekerja di Pabrik 2 dan Pabrik 3.
Tak hanya tenaga kerja langsung, keberadaan pabrik baru diperkirakan menciptakan sekitar 3.500 lapangan kerja tidak langsung. Kim menegaskan, KT&G juga semakin mengandalkan tenaga kerja lokal dalam menjalankan operasional pabrik di Indonesia.
"Sebagian besar tenaga kerja kami sudah dari lokal Indonesia. Sekarang, kecuali sekitar 13 orang Korea, hampir semua orang Indonesia," kata dia.
Di tengah ekspansi tersebut, KT&G menyadari industri hasil tembakau di Indonesia menghadapi tantangan berupa tingginya beban cukai. Pemerintah Indonesia mengenakan cukai dan pungutan terkait produk hasil tembakau yang menjadi salah satu komponen penting dalam struktur biaya industri.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan komitmen KT&G untuk berinvestasi di Indonesia.
Kim mengatakan perusahaan akan tetap mengikuti kebijakan pemerintah Indonesia, termasuk apabila terjadi perubahan tarif cukai di masa mendatang.
"Kami masih belum tahu apakah bea cukai yang hampir 50% akan naik. Tapi kami akan patuh pada kebijakan pemerintah. Kalau tarifnya naik, kami tetap bayar. Kami akan mengikuti regulasi Indonesia," ujar Kim.
Menurut dia, kepatuhan terhadap regulasi menjadi prinsip perusahaan dalam menjalankan bisnis di Indonesia.
Berbeda dengan pabrik pertama yang lebih banyak memasok kebutuhan pasar domestik, Pabrik 2 dan Pabrik 3 akan lebih diarahkan untuk memenuhi pasar ekspor.
Kim mengatakan sejumlah negara telah menjadi target pasar ekspor dari fasilitas baru tersebut, terutama Thailand, Mongolia dan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
"Untuk target ekspor, Thailand, Mongolia, dan negara-negara di hanya ditujukan untuk meningkatkan penetrasi perusahaan di pasar rokok Indonesia. Pabrik tersebut juga diposisikan Asia Tenggara. Kami akan memperluas negara ekspor," katanya.
Dengan demikian, investasi besar KT&G di Pasuruan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan penetrasi perusahaan di pasar rokok Indonesia. Pabrik tersebut juga diposisikan sebagai salah satu basis produksi untuk jaringan ekspor KT&G.
Dari sisi produk, KT&G memiliki sekitar 52 merek secara global. Untuk pasar Indonesia, dua merek yang telah dikenal antara lain ESSE dan JUARA. Kim mengatakan fasilitas baru akan memproduksi sejumlah merek yang memiliki permintaan tinggi di pasar ekspor.
Beberapa di antaranya adalah ESSE, Pabrik 3 biasanya untuk ekspor. Semua akan diproduksi, tetapi yang paling penting adalah yang penjualannya lebih banyak, seperti ESSE, ESSE Bohem, ESSE Bohem dan Carnival.
"Kami mempunyai hampir 52 brand. Pabrik pertama yang terkenal ESSE dan JUARA, sedangkan Pabrik 2 dan Pabrik 3 biasanya untuk ekspor. Semua akan diproduksi, tetapi yang paling penting adalah yang penjualannya lebih banyak, seperti ESSE contohnya,” jelasnya.
Dengan kapasitas produksi yang mencapai 35 miliar batang per tahun, KT&G kini menempatkan Indonesia sebagai salah satu basis manufaktur penting dalam jaringan globalnya.
Ekspansi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa meski menghadapi tantangan regulasi dan tingginya beban cukai, Indonesia masih dinilai memiliki prospek sebagai basis produksi dan ekspor bagi perusahaan tembakau asal Korea Selatan tersebut.
Baca Juga: Bahlil Ungkap Strategi Jaga Harga Nikel di Tengah Kebutuhan Smelter yang Tinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














