kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.247   -61,00   -0,35%
  • IDX 7.146   -232,20   -3,15%
  • KOMPAS100 970   -34,30   -3,42%
  • LQ45 693   -23,30   -3,25%
  • ISSI 260   -7,89   -2,95%
  • IDX30 383   -9,85   -2,50%
  • IDXHIDIV20 473   -9,85   -2,04%
  • IDX80 109   -3,70   -3,30%
  • IDXV30 137   -2,37   -1,69%
  • IDXQ30 123   -2,90   -2,30%

Bapanas Tahan Harga Beras SPHP, Pembelian Maksimal 5 Pack untuk Cegah Distorsi


Jumat, 24 April 2026 / 13:01 WIB
Diperbarui Jumat, 24 April 2026 / 13:04 WIB
Bapanas Tahan Harga Beras SPHP, Pembelian Maksimal 5 Pack untuk Cegah Distorsi
ILUSTRASI. Target penyaluran beras SPHP di Kalimantan Tengah (ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pangan Nasional memastikan harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tidak mengalami kenaikan. Pemerintah juga tetap memberlakukan pembatasan pembelian maksimal 25 kilogram (kg) per konsumen guna menjaga stabilitas pasar.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, beras SPHP tetap menjadi instrumen utama pemerintah dalam mengendalikan harga di pasar.

“Ada namanya SPHP. Itu beras yang untuk penyeimbang kalau ada yang mau menaikkan harga. Nah SPHP, kita tidak naikkan. Tetap harganya seperti sekarang. (Kualitasnya) ini premium,” ujar Amran dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, kualitas beras SPHP saat ini terjaga seiring perbaikan faktor produksi seperti pupuk dan irigasi.

Baca Juga: Pemerintah Naikkan Batas Pembelian Beras SPHP Jadi 25 Kg, Bulog Siapkan 1,5 Juta Ton

"Sekarang kualitasnya bagus karena pupuknya bagus, tepat waktu, tepat volume, dan airnya bagus,” katanya.

Dari sisi realisasi, penyaluran SPHP sepanjang Maret 2026 tercatat 70,01 ribu ton. Sementara hingga 23 April, realisasi telah mencapai 69,85 ribu ton atau 99,77% dari capaian bulan sebelumnya, menandakan distribusi mulai bergerak lebih cepat.

Untuk mendukung distribusi, Bapanas bersama Bulog juga mengantisipasi kendala kemasan dengan memanfaatkan sekitar 12,3 juta lembar kemasan lama periode 2023–2025, dengan catatan informasi mutu dan harga tetap sesuai serta diawasi ketat.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan pembelian beras sempat mendapat sorotan dari pengamat komunikasi publik Hendri Satrio. Ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan persepsi kelangkaan di masyarakat.

Menanggapi hal itu, Amran menegaskan pembatasan justru untuk mencegah praktik penyimpangan seperti penimbunan dan penjualan ulang. 

"Ini dibatasi karena ini adalah subsidi pemerintah supaya jadi penyeimbang. Kalau tidak dibatasi (bisa) diborong 1 truk, (lalu) dijual kembali,” jelasnya.

Baca Juga: Beras SPHP Dominan, Penjualan Bulog ke KopDes Merah Putih Masih Rp7,2 Miliar

Berdasarkan aturan terbaru, masyarakat dapat membeli maksimal lima kemasan ukuran 5 kg atau alternatif dua kemasan ukuran 2 kg. Beras SPHP yang dibeli juga dilarang untuk diperjualbelikan kembali karena mengandung subsidi pemerintah.

Tahun ini, target distribusi SPHP mencapai 828 ribu ton dengan dukungan anggaran subsidi sebesar Rp 4,97 triliun. Bulog diarahkan fokus menyalurkan beras ke wilayah non-sentra produksi dan daerah yang belum memasuki masa panen.

Amran juga menyoroti dampak kebijakan terhadap inflasi. Menurutnya, beras yang sebelumnya menjadi penyumbang utama inflasi kini mulai terkendali.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi beras bulanan pada 2026 relatif rendah, dengan level tertinggi hanya 0,65% pada Maret. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode 2023–2024 yang sempat menembus di atas 5%.

“Dulu beras selalu jadi penyumbang inflasi utama. Sekarang tidak lagi. Jadi kita pakai data,” ujar Amran.

Baca Juga: Kejar Target 1,5 Juta Ton, Bulog Usulkan Pembelian Beras SPHP Bisa Lebih dari 2 Pack

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×