kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.307   -1,00   -0,01%
  • IDX 7.153   -225,75   -3,06%
  • KOMPAS100 970   -34,57   -3,44%
  • LQ45 691   -24,54   -3,43%
  • ISSI 260   -7,61   -2,84%
  • IDX30 382   -10,82   -2,75%
  • IDXHIDIV20 471   -11,55   -2,39%
  • IDX80 108   -3,85   -3,43%
  • IDXV30 137   -2,91   -2,08%
  • IDXQ30 122   -3,28   -2,61%

SMGR Genjot Bahan Bakar Alternatif, Konsumsi Batubara Turun 467.000 Ton di 2025


Jumat, 24 April 2026 / 10:39 WIB
SMGR Genjot Bahan Bakar Alternatif, Konsumsi Batubara Turun 467.000 Ton di 2025
ILUSTRASI. Saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) masuk dalam aftar konstituen indeks PEFINDO i-Grade (dok/SIG)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG mempercepat optimalisasi bahan bakar alternatif berbasis limbah industri, biomassa, hingga sampah perkotaan sebagai strategi utama menekan biaya energi sekaligus emisi. 

Langkah ini kian relevan di tengah tekanan transisi energi dan tuntutan efisiensi industri semen yang selama ini bergantung pada batubara.

Sepanjang 2025, SIG mencatat lonjakan pemanfaatan bahan bakar alternatif sebesar 24% menjadi 681.000 ton. Volume tersebut setara dengan pengurangan konsumsi batubara hingga 467.000ton. 

Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Genjot Bisnis Non-Semen, Bidik 89% Potensi Material Konstruksi

Dampaknya, rasio substitusi termal (thermal substitution rate/TSR) meningkat ke level 9,77%, mencerminkan pergeseran signifikan dalam bauran energi perusahaan.

Corporate Secretary Semen Indonesia, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa pendekatan keberlanjutan kini menjadi bagian dari daya saing bisnis. 

"Kinerja keberlanjutan bisa berjalan seiring dengan kinerja bisnis dan memperkuat ketahanan operasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).

 

Optimalisasi bahan bakar alternatif dilakukan melalui pemanfaatan refuse-derived fuel (RDF), yakni bahan bakar hasil olahan sampah perkotaan, serta limbah industri dan biomassa. 

Selain menekan ketergantungan pada energi fosil, strategi ini juga membuka nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan, termasuk peluang tambahan bagi sektor pertanian sebagai pemasok biomassa.

Dari sisi lingkungan, pergeseran energi ini berkontribusi langsung pada penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). SIG mencatat penurunan emisi cakupan 1 sebesar 21% dibanding baseline 2010, serta penurunan emisi cakupan 2 sebesar 15% dari baseline 2019. 

Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Bisnis Berkelanjutan dengan Inovasi Industri Hijau

Penurunan ini ditopang kombinasi penggunaan bahan bakar alternatif, energi terbarukan, hingga efisiensi proses produksi.

Perusahaan juga memperluas sumber energi bersih melalui pemasangan panel surya di berbagai fasilitas operasional. 

Selain itu, SIG memanfaatkan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG) untuk mengonversi panas buang dari proses produksi menjadi listrik, sehingga meningkatkan efisiensi energi secara keseluruhan.

Di sisi hulu, praktik berkelanjutan juga dijalankan melalui reklamasi lahan pascatambang. Hingga 2025, total lahan yang telah direklamasi mencapai 628 hektare yang tersebar di berbagai wilayah operasional. 

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memastikan keberlanjutan operasi jangka panjang.

Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Garap Pasar Afrika, Ekspor Perdana Klinker ke Mauritania

Konsistensi penerapan prinsip ESG tersebut berbuah pengakuan, dengan enam penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup yang diraih oleh sejumlah unit usaha SIG.

Ke depan, SIG menargetkan percepatan transformasi industri bahan bangunan melalui pemanfaatan energi yang lebih efisien dan rendah emisi. 

Optimalisasi bahan bakar alternatif diposisikan sebagai kunci, bukan hanya untuk memenuhi target dekarbonisasi, tetapi juga menjaga daya saing di tengah dinamika biaya energi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×