Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri konstruksi nasional menghadapi tantangan menjaga profitabilitas di tengah tekanan kenaikan beban operasional yang masih membayangi industri.
Fluktuasi harga material konstruksi, biaya logistik, hingga dampak dinamika geopolitik global mendorong perusahaan memperketat efisiensi, memperkuat manajemen risiko, serta lebih selektif dalam mengambil proyek baru.
Direktur Portofolio Bisnis & Risiko PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Rozi Sparta mengatakan, tantangan utama industri saat ini berasal dari penyesuaian biaya akibat fluktuasi harga komoditas material utama seperti baja dan semen serta perubahan biaya logistik.
Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) Siapkan Strategi Mitigasi Hadapi Kenaikan Biaya Konstruksi
"Di perusahaan kami, dampak ini terasa, namun kami terus mengimbanginya melalui manajemen rantai pasok yang disiplin. Kami fokus melakukan efisiensi internal melalui sentralisasi bersama mitra strategis untuk meminimalkan dampak langsung terhadap biaya proyek secara keseluruhan," ujar Rozi kepada Kontan, Jumat (7/8).
Menurutnya, ADHI juga memperketat mitigasi risiko dengan lebih selektif memilih proyek yang akan dikerjakan. Perseroan juga terus membuka ruang dialog dengan pemberi kerja, baik dari sektor pemerintah maupun swasta, terkait kemungkinan penyesuaian nilai kontrak maupun skema eskalasi.
"Kami senantiasa membuka ruang dialog untuk mendiskusikan penyesuaian nilai kontrak atau skema eskalasi yang wajar dan sesuai dengan koridor hukum maupun ketentuan kontraktual yang berlaku," katanya.
Selain itu, ADHI memprioritaskan penguatan likuiditas melalui disiplin anggaran, efisiensi biaya operasional, optimalisasi penagihan termin proyek, serta program penyehatan keuangan.
Corporate Secretary PT PP (Persero) Tbk (PTPP) Joko Raharjo menyampaikan, perubahan biaya konstruksi juga dipengaruhi kondisi geopolitik global. Untuk meredam dampaknya, PTPP menerapkan strategi mitigasi melalui klausul force majeure serta kontrak payung dengan vendor material konstruksi.
Di sisi lain, PTPP juga semakin selektif memilih proyek, terutama yang memiliki pendanaan lebih aman. Perseroan turut mengandalkan adopsi teknologi digital dan penerapan lean construction guna meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek.
"Selain itu PTPP juga memanfaatkan adopsi teknologi digital dan management proyek yang lebih efisien dengan lean construction," ungkap Joko.
Meski menghadapi tekanan biaya, kedua emiten tetap mencatatkan perkembangan positif dari sisi operasional.
ADHI membukukan kontrak baru sebesar Rp 7,8 triliun hingga Juni 2026, melonjak 123% secara tahunan dan didominasi proyek infrastruktur dari sektor pemerintah.
Sementara itu, PTPP meraih kontrak baru senilai Rp 8,42 triliun pada semester I-2026, dengan kontribusi terbesar berasal dari proyek jalan dan jembatan, tanggap darurat, serta smelter dan pertambangan.
Baca Juga: Haraku Ramen Targetkan Miliki 30 Gerai hingga Akhir 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
