kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45945,18   -11,93   -1.25%
  • EMAS977.000 -1,21%
  • RD.SAHAM -1.34%
  • RD.CAMPURAN -0.36%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.03%

Begini perkembangan 4 proyek strategis nasional hulu migas


Rabu, 20 Oktober 2021 / 14:46 WIB
Begini perkembangan 4 proyek strategis nasional hulu migas
ILUSTRASI. Pemboran sumur migas Pertamina EP-Cepu di Jambaran Tiung Biru


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) masih terus mengawal jalannya 4 Proyek Strategis Nasional (PSN) sektor hulu migas.

Tercatat, 4 PSN tersebut terdiri dari Jambaran Tiung Biru (JTB) oleh Pertamina EP Cepu, Tangguh Train III oleh BP Berau Ltd, Proyek LNG Abadi oleh Inpex dan Indonesia Deepwater Development (IDD) oleh Chevron. Keempat proyek ini menelan total investasi US$ 37,21 miliar dengan total tambahan produksi 65.000 BOPD dan 3.484 MMSCFD.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan saat ini sudah ada dua proyek yang bersiap untuk onstream.

"PSN sudah persiapan onstream tangguh Train III dan JTB," kata Dwi dalam Konferensi Pers Kinerja Hulu Migas Kuartal III, Selasa (19/10).

Proyek Jambaran Tiung Biru tercatat kini mencapai 94,26% atau lebih rendah dari perkiraan awal yang sebesar 98,47%. Proyek dengan estimasi produksi 190 MMSCFD dan nilai investasi mencapai US$ 1,53 miliar ini diharapkan onstream pada kuartal IV 2021.

Sementara itu, Proyek Tangguh Train III kini mencapai 91,2% untuk proyek onshore dan 99,2% untuk offshore. Proyek ini diharapkan berkontribusi 700 MMSCFD dan 3.000 BCPD. Investasi proyek ini mencapai US$ 8,9 miliar dan diprediksi bakal onstream pada kuartal II 2022.

Dua proyek lainnya yakni LNG Abadi dan IDD masih dihadapkan pada rencana divestasi.

Baca Juga: Lifting migas belum capai target, begini penjelasan SKK Migas

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengungkapkan pencarian mitra pengganti bagi Shell untuk proyek LNG Abadi Masela masih berlangsung.

Fatar mengungkapkan, proses pencarian mitra terhambat akibat turunnya harga minyak dunia pada masa pandemi covid-19 lalu. Hal ini berimbas pada nilai pengembangan proyek yang dianggap kurang menarik di situasi saat itu.

Selain itu, terjadi sedikit perubahan seiring rencana net zero emission dimana akan ada tambahan proyek carbon capture, utilization and storage (CCUS).

"Mudah-mudahan dengan perbaikan (harga minyak) ini Shell bisa lebih cepat," terang Fatar.

Sementara itu, Proyek IDD pun kini masih dalam tahapan divestasi. ENI masih menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Chevron di proyek tersebut.

"Kebetulan dengan naik harga minyak memberikan sweetener untuk investor melakukan deal-deal bisnis," kata Fatar.

Merujuk paparan SKK Migas, Proyek Abadi Masela kini dalam persiapan Front End Engineering Design (FEED). Proyek dengan investasi mencapai US$ 19,8 miliar ini diharapkan onstream pada kuartal II 2027 mendatang.

Sementara proyek IDD kini masih dalam tahapan pengalihan interest Blok Rapak Ganal. Proyek yang menelan investasi US$ 6,98 miliar ini diharapkan onstream pada kuartal IV 2025 mendatang.

 

Selanjutnya: Penundaan penyesuaian harga BBM berpotensi tekan kinerja Pertamina

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×