kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.996.000   8.000   0,27%
  • USD/IDR 16.977   -52,00   -0,31%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Pemerintah Percepat Pembangunan PLTS 100 GW, Akses Listrik Desa Makin Merata


Rabu, 18 Maret 2026 / 16:53 WIB
Pemerintah Percepat Pembangunan PLTS 100 GW, Akses Listrik Desa Makin Merata
ILUSTRASI. Pemerintah kejar 100 GW PLTS, bawa listrik ke desa terpencil. Temukan bagaimana Sumenep kini terang benderang berkat energi surya. (DOK/PLN NP)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah terus mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Target ambisius pun dicanangkan dengan kapasitas mencapai 100 Gigawatt (GW), seiring upaya memperluas akses listrik hingga ke wilayah terpencil.

Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menyatakan bahwa ketahanan energi merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Menurutnya, perluasan akses listrik yang diiringi dengan pemanfaatan energi hijau menjadi langkah strategis untuk menciptakan keadilan energi di seluruh wilayah Indonesia.

Pemanfaatan PLTS sendiri menunjukkan tren positif. Hingga tahun 2025, kapasitas terpasang PLTS nasional telah mencapai 1,49 GW. Angka ini menjadi pijakan awal menuju target yang jauh lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.

“Dampak positif dari transisi energi ini sangat dirasakan oleh masyarakat di wilayah terpencil melalui program PLTS Off-Grid Isolated (Program Listrik Desa),” ucap Qodari dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).

Baca Juga: Proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Cisem 2 Resmi Lakukan Pengaliran Perdana

Salah satu contoh nyata implementasi program ini terlihat di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sebanyak 500 rumah tangga di Pulau Sakala dan 400 rumah tangga di Pulau Karamian kini telah menikmati aliran listrik dari PLTS dengan total kapasitas 275 kWp.

Sebelum adanya PLTS, masyarakat di kedua wilayah tersebut mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel dengan durasi operasi terbatas dan sangat bergantung pada pasokan bahan bakar minyak (BBM). Kini, warga dapat menikmati listrik yang lebih stabil, ramah lingkungan, serta efisien secara biaya dengan memanfaatkan energi matahari.

Selain pengembangan PLTS, pemerintah juga menggenjot Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) untuk memperluas elektrifikasi nasional. Hingga 11 Maret 2026, realisasi pemasangan listrik telah mencapai 220.857 rumah tangga atau 102,72% dari target yang ditetapkan.

Baca Juga: Ketahanan Energi RI Pasca Ramadan Terjaga, Pemerintah Siapkan Strategi Antisipasi

Program BPBL memberikan bantuan komprehensif berupa instalasi listrik dengan tiga lampu, satu stop kontak, sertifikat instalasi, penyambungan daya 900 VA, serta token listrik awal senilai Rp100.000.

Qodari menegaskan bahwa kehadiran listrik yang legal dan aman membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Selain memenuhi kebutuhan dasar penerangan, listrik juga mendorong produktivitas ekonomi, mendukung kegiatan belajar anak di malam hari, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah.

“Secara nasional, Program BPBL turut memperkuat ketahanan energi melalui perluasan akses listrik bagi masyarakat yang sebelumnya belum terlayani,” jelas Qodari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×