kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Begini Strategi PTPN I Jaga Kualitas Tembakau Cerutu Premium untuk Pasar Global


Minggu, 12 Juli 2026 / 14:09 WIB
Begini Strategi PTPN I Jaga Kualitas Tembakau Cerutu Premium untuk Pasar Global
ILUSTRASI. PTPN I Perluas Kemitraan Petani Jember untuk Perkuat Pasokan Tembakau Ekspor (Dok/PTPN I)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I memilih menjaga kualitas produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) dibanding mengejar peningkatan volume produksi, untuk mempertahankan tembakau Besuki sebagai salah satu bahan baku daun pembungkus luar (wrapper) cerutu premium di pasar global.

General Manager Kebun Tembakau Ajong PTPN I Regional 5 Syaifudin Zuhri mengatakan, strategi ini dilakukan lantaran karakter bisnis tembakau cerutu berbeda dengan komoditas pertanian lainnya. Penilaian utama bukan terletak pada jumlah produksi, melainkan tingkat kualitas daun yang dihasilkan.

"Lebih baik produksi 90% dengan 90% kualitas Top dan 10% Medium dibanding produksi 105% tetapi kualitas Top hanya 20%," ujar Syaifudin dalam keterangan tertulis, Minggu (12/7/2026).

Baca Juga: Mungkinkah Surplus Solar Dikonversi Jadi Avtur? Begini Kata Ahli Teknik Perminyakan

Menurutnya, kualitas menjadi faktor penting karena perbedaan harga antar-grade cukup besar. Saat ini, tembakau kualitas Top dapat mencapai harga sekitar Rp 1 juta per kilogram (kg). Sementara, kualitas Medium berada di kisaran Rp 600.000 per kg dan Low Grade sekitar Rp 50.000-Rp 120.000 per kg.

Untuk menjaga kualitas tersebut, PTPN I menerapkan budidaya presisi mulai dari pemilihan lahan, pengaturan waktu tanam, pengendalian hama, hingga proses pascapanen.

Perusahaan juga membatasi mekanisasi pada tahap tertentu lantaran karakter daun TBN membutuhkan perlakuan manual untuk menjaga kondisi fisik daun.

Untuk menjaga karakter daun, PTPN I menerapkan rekayasa iklim mikro melalui penggunaan waring sebagai peneduh tanaman. Teknologi ini mengurangi paparan sinar matahari langsung sekitar 30%, sehingga intensitas cahaya yang diterima tanaman hanya sekitar 70%.

"Pengondisian lingkungan tumbuh ini terbukti menghasilkan lembaran daun tembakau yang lebih tipis, elastis, dan memenuhi kriteria premium pasar cerutu global," jelas Syaifudin.

Selain itu, PTPN I juga mengembangkan metode pengendalian hama berbasis lingkungan melalui penggunaan yellow trap untuk memantau populasi serangga tanpa mengganggu kualitas tanaman.

Dari sisi produksi, perusahaan menentukan luas tanam berdasarkan permintaan pasar yang telah terkontrak. Syaifudin bilang, PTPN I tidak mengambil pendekatan produksi berlebih karena stok yang tidak terserap justru berpotensi memicu beban operasional.

Dengan strategi tersebut, PTPN I menargetkan produksi tembakau cerutu tetap berada pada segmen premium dan menjaga daya saing tembakau Besuki di pasar internasional.

Baca Juga: Badan Usaha Tambang Dapat Tugas Amankan DMO Batubara 212 Juta Metrik Ton, untuk Apa?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×