Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mencatat perbaikan fundamental seiring pelaksanaan restrukturisasi keuangan, penataan organisasi, efisiensi biaya, optimalisasi modal kerja, serta percepatan digitalisasi.
Sepanjang 2025, Kimia Farma mencatat hasil positif dari program restrukturisasi keuangan yang dijalankan konsisten. Perusahaan berhasil menekan kerugian bersih hingga 63,3% dari Rp 1,21 triliun pada 2024 menjadi Rp 443,36 miliar pada 2025. Rugi per saham dasar juga turun dari Rp 151,31 menjadi Rp 60,17.
Capaian itu tak lepas dari keberhasilan perusahaan melakukan efisiensi biaya tahun lalu. Ida Rasita Kirin, Sekretraris Perusahaan Kimia Farma mengatakan, beban pokok penjualan KAEF turun menjadi Rp 6,16 triliun dari Rp 6,99 triliun. Adapun total pendapatannya mencapai Rp 9,22 triliun, menyusut 7,2% secara tahunan.
“Beban usaha juga menyusut 12,65% dari Rp3,79 triliun menjadi Rp3,31 triliun, sejalan dengan pembenahan struktur biaya, baik HPP maupun biaya operasional,” ungkapnya dalam keterangan resminya, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Gandeng Novo Nordisk Hadirkan Program Penurunan Berat Badan
Efisiensi dan fokus pada produk bermargin tinggi mendorong laba bruto naik menjadi Rp 3,06 triliun, dari Rp 2,95 triliun pada 2024.
Di sisi neraca, liabilitas jangka pendek turun dari Rp7,91 triliun menjadi Rp7,06 triliun. Penurunan terbesar terjadi pada utang bank jangka pendek yang susut dari Rp3,06 triliun menjadi Rp1,09 triliun, sejalan dengan upaya penyehatan keuangan.
Ida menambahkan, KAEF terus menjalankan transformasi menyeluruh guna menjaga keberlanjutan usaha dan mendorong pertumbuhan yang lebih sehat.
Transformasi difokuskan pada penguatan fundamental melalui enam pilar, yakni ketahanan modal kerja, penguatan SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola (GCG), serta sinergi antarentitas KAEF Group.
Perseroan juga menajamkan fokus bisnis dengan mengembangkan produk bermargin tinggi, tanpa mengabaikan komitmen penyediaan obat untuk mendukung program pemerintah dalam menjaga akses layanan kesehatan.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Bidik Pertumbuhan High Single Digit di 2026
Di sisi lain, digitalisasi terus diperkuat untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan, mencakup penguatan sistem operasional, supply chain, serta integrasi data guna mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Dari sisi pendanaan, KAEF memperoleh pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) sebesar Rp846 miliar dari PT Danantara Asset Management melalui PT Bio Farma (Persero). Dana ini memperkuat modal kerja, memperbaiki kinerja operasional, serta menopang proses restrukturisasi yang berjalan.
Menurut Ida, capaian 2025 mencerminkan komitmen transformasi menyeluruh. “Dengan dukungan Bio Farma Group dan Danantara, KAEF optimistis memperkuat posisi di industri kesehatan melalui strategi yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan.” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













