Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bio Farma (Persero) memperkuat portofolio vaksin nasional dengan meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri. Kehadiran produk baru ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan vaksin domestik sekaligus mendukung upaya perusahaan memperluas pasar ekspor.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi jangka panjang dengan International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010 dan diperkuat melalui proses transfer teknologi pada 2013.
Pengembangannya juga melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam pelaksanaan uji klinis hingga memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Baca Juga: BIRD Tambah Lini Layanan, Bluebird Prime Sasar Segmen Premium Harian
"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi," ujar Shadiq di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang digunakan untuk membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin tersebut dapat diberikan kepada anak mulai usia enam bulan hingga orang dewasa sesuai indikasi yang telah disetujui BPOM.
Peluncuran produk tersebut dilakukan di tengah tingginya kasus tifoid di Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2024, terdapat sekitar 9 juta kasus tifoid setiap tahun di dunia dengan sekitar 110.000 kematian. Sementara di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6% populasi dengan angka kejadian sekitar 148,7 kasus per 100.000 penduduk.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional.
Menurutnya, pengembangan vaksin membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, regulator, hingga lembaga penelitian agar inovasi kesehatan dapat terus berkembang.
"Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," katanya.
Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Membuat Konsumsi Biosolar dan Pertalite Melonjak
Senada, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan lembaganya mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi mutu, keamanan, dan khasiat vaksin.
Menurut Taruna, pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bahwa Indonesia perlu memperkuat kemampuan riset dan produksi vaksin agar tidak bergantung pada pasokan global ketika terjadi krisis kesehatan.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma juga tengah meningkatkan kapasitas fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar internasional melalui proses WHO Prequalification dan registrasi di berbagai negara.
Perusahaan berharap Bio-TCV tidak hanya memperkuat portofolio vaksin nasional, tetapi juga menjadi salah satu produk ekspor Bio Farma ke negara-negara dengan beban penyakit tifoid yang tinggi, khususnya di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
