Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - BOGOR. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melepas sebanyak 2.361 lulusan dari sembilan SMK-SMAK dan SMK-SMTI binaannya pada 2026.
Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 lulusan atau sekitar 63% di antaranya telah terserap bekerja di berbagai perusahaan manufaktur.
Baca Juga: Bio Farma Siapkan Vaksin Tifoid Bio-TCV untuk Pasar Domestik dan Ekspor
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pendidikan vokasi industri menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil seiring pertumbuhan sektor manufaktur.
Ia menegaskan, industri pengolahan masih menunjukkan kinerja yang positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri pengolahan tumbuh 5,04% pada kuartal I-2026, berkontribusi sebesar 19,07% terhadap produk domestik bruto (PDB), menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta menyumbang sekitar 82% nilai ekspor nasional.
"Industri bukan sektor yang sedang melemah, tetapi terus tumbuh dan membutuhkan tenaga kerja baru yang kompeten," ujar Agus dalam acara Pelepasan Lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI serta Studium Generale Serentak Tahun 2026 di Bogor, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga: BIRD Tambah Lini Layanan, Bluebird Prime Sasar Segmen Premium Harian
Menurut Agus, kebutuhan tenaga kerja terampil akan terus meningkat seiring percepatan program hilirisasi dan penguatan sektor manufaktur yang menjadi prioritas pemerintah.
Ia menilai, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, baik di laboratorium maupun di lini produksi.
Karena itu, Agus mengingatkan para lulusan untuk menjaga profesionalisme, integritas, serta disiplin saat memasuki dunia kerja.
Menurutnya, kompetensi teknis harus dibarengi dengan tanggung jawab agar mampu menjaga kualitas produk dan meningkatkan daya saing industri nasional.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi mengungkapkan, tingkat serapan kerja lulusan SMK binaan Kemenperin telah mencapai 63% hingga Juli 2026.
"Berdasarkan data hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 orang atau 63% dari total 2.361 lulusan telah bekerja di berbagai perusahaan industri," kata Doddy.
Baca Juga: Strategi Nusantara Infrastructure (META) Bidik Kinerja Tumbuh Dobel Digit pada 2026
Ia menjelaskan, para lulusan telah bekerja di sejumlah perusahaan manufaktur, di antaranya PT Mayora Indah Tbk, PT Panasonic Gobel Energy Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Sucofindo, hingga PT LAPI Laboratories.
BPSDMI juga menyiapkan program pendampingan bagi lulusan yang belum memperoleh pekerjaan. Selama tiga bulan pertama setelah kelulusan, sekolah akan memberikan asistensi pencarian kerja. Apabila dalam enam bulan lulusan belum terserap industri, mereka akan mendapatkan program peningkatan kompetensi maupun fasilitasi magang guna meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan.
Di sisi lain, minat masyarakat terhadap sekolah vokasi binaan Kemenperin terus meningkat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1:12,2, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1:10,7.
Baca Juga: Menperin: Konsep Dewan Kawasan Industri Masih Digodok bersama DPR
Doddy mengatakan, meningkatnya minat masyarakat menjadi dorongan bagi BPSDMI untuk terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi.
Upaya tersebut dilakukan melalui evaluasi penyelenggaraan pendidikan, penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, serta peningkatan tata kelola sekolah agar mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
