kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Membuat Konsumsi Biosolar dan Pertalite Melonjak


Kamis, 16 Juli 2026 / 19:49 WIB
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Membuat Konsumsi Biosolar dan Pertalite Melonjak
ILUSTRASI. Distribusi BBM Bersubsidi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi membawa perubahan pola konsumsi. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan PT Pertamina Patra Niaga memotret terjadi migrasi pembelian dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi, yakni Biosolar dan Pertalite.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengamini terjadi tren peningkatan konsumsi Biosolar dan Pertalite pasca kenaikan harga Jenis BBM Umum (JBU) seperti Pertamax dan Dex Series. "Masyarakat cenderung (beralih) yang semula menggunakan BBM non-subsidi menjadi subsidi," kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7/2026).

Wahyudi mengungkapkan realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) atau minyak solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite. Hingga Juni 2026, penyaluran JBT minyak solar mencapai 9,48 juta kiloliter (KL) atau 50,85% dari total kuota JBT minyak solar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 18,64 juta KL.

Sementara itu, realisasi penyaluran JBKP Pertalite mencapai 13,96 juta KL sampai dengan Juni 2026. Jumlah itu setara dengan 47,68% dari kuota JBKP pada APBN 2026, yang dialokasikan sebanyak 29,27 juta KL.

Baca Juga: Harga BBM Non Subsidi Naik, Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Kualitas Layanan SPBU

Pertamina Patra Niaga membeberkan data yang lebih rinci mengenai konsumsi BBM subsidi dan non-subsidi. Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman menyampaikan realisasi penyaluran BBM pada bulan Juli untuk Pertalite dan Biosolar berada di atas rata-rata konsumsi normal, yakni 104% untuk Pertalite dan 105% untuk Biosolar.

Meski terjadi peningkatan konsumsi, tapi Taufik meyakinkan bahwa ketersediaan BBM dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dia menggambarkan bahwa cadangan BBM nasional rata-rata berada di 14 hari - 40 hari, tergantung jenis BBM dan daerahnya. Sedangkan untuk Pertalite dan Biosolar terjaga di sekitar 15 hari.

"Peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus kami monitor secara harian. Kemudian dari proyeksi supply - demand bebeerapa bulan ke depan, secara umum kebutuhan produk masih dalam dipenuhi. Kami berkomitmen menjaga tiga hal utama: ketersediaan produk, kelancaran distribusi dan ketepatan sasaran penyaluran," jelas Taufik.

Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Terus Dievaluasi, Kondisi Selat Hormuz Jadi Penentu

Sementara itu, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen yang beralih ke BBM subsidi terpantau setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi. Eko menggambarkan proporsi Pertalite terhadap konsumsi bensin naik 4,9% dari 75,4% (Januari - Mei 2026) menjadi 80,3% (Juli).

Sebaliknya, proporsi Pertamax turun 4,4% dari 23,2% menjadi 18,8%. Data tersebut mengindikasikan setelah kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026, terjadi peralihan (shifting) ke Pertalite. Akibatnya, rerata penyaluran Pertalite pada bulan Juli meningkat 9,4% atau naik 7.129 KL per hari dibandingkan rerata normal.

Berkebalikan dengan produk Pertamax Series (Pertamax, Pertamax Green 95 dan Pertamax Turbo) yang pada bulan ini telah mengalami penurunan hingga 18%. Konsumsi produk Pertamax Series anjlok 4.476 KL per hari dibandingkan rerata normal.

Pola serupa terjadi pada konsumsi BBM jenis gasoil atau diesel. Proporsi Biosolar terhadap total konsumsi gasoil naik 1,2% dari 93% (Januari - Mei 2026) menjadi 94,2% (Juli). Pada periode yang sama, proporsi Dexlite turun 0,6% dari 4,1% menjadi 3,5%.

Pada bulan Juli ini, rerata penyaluran Biosolar melonjak 13,9% atau naik sebanyak 6.725 KL per hari dibandingkan rerata normal. Sementara itu, Dex Series (Dexliter dan Pertamina Dex) turun 6,4% atau menyusut 232 KL per hari dari rata-rata normal.

Stok Aman, Dihimbau Tidak Panic Buying

Taufik mengungkapkan bahwa migrasi konsumsi ke BBM subsidi menjadi salah satu penyebab antrean yang mengular di sejumlah daerah, khususnya di Sumatra. Kondisi ini juga didorong oleh adanya pembelian yang berlebihan (panic buying). Selain itu, Taufik mengakui tantangan distribusi BBM ke lembaga penyalur hingga Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) yang harus lebih sigap merespons peningkatan volume konsumsi tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Turun, Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Turun di Bulan Juli

Guna mengatasi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga telah menambah pasokan, jumlah armada, serta menambah jam operasi. Pertamina pun menggandeng Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) untuk mempercepat normalisasi di lapangan. "Atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat, kami menyampaikan permohonan maaf," ujar Taufik.

Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga bekerjasama dengan TNI-Polri untuk memastikan pengamanan distribusi BBM bisa sampai ke SPBU. "Laporan tadi pagi (pasokan BBM di Sumatra) sudah normal, karena kami dua hari terakhir tambah armada dan awak mobil tangki," imbuh Taufik.

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya turut menegaskan bahwa stok BBM dalam kondisi aman. Menurut Bambang, situasi ketahanan energi Indonesia saat ini lebih kuat dibandingkan tiga bulan lalu, ketika eskalasi konflik geopolitik terjadi di Selat Hormuz yang berdampak terhadap harga dan pasokan energi global.

Dengan begitu, Bambang mengimbau agar tidak terjadi panic buying. "Kami berharap tidak terjadi antrean-antrean yang disebabkan karena orang merasa gelisah, jangan-jangan nanti barang nggak ada. Padahal barangnya cukup," terang Bambang.

Bambang juga menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun ini. "BBM subsidi dijamin sampai tahun fiskal 2026 tidak ada perubahan. Pemerintah menjamin itu, DPR mengawal itu," tandas Bambang.

Baca Juga: Harga BBM Non Subsidi Turun Juli? Ini Jawaban Bahlil Lahadalia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×