kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

BIRD & TAXI masih ketar-ketir aplikasi taksi


Selasa, 12 April 2016 / 11:23 WIB
BIRD & TAXI masih ketar-ketir aplikasi taksi

Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Kehadiran aplikasi transportasi yang mulai marak sejak tahun lalu masih belum berpengaruh terhadap kinerja perusahaan taksi domestik. Baik PT Blue Bird Tbk (BIRD) maupun PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), mencatatkan kinerja yang membaik tahun lalu dibandingkan 2014.

David Santosa, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Express Transindo Utama menjelaskan, kenaikan pendapatan tahun lalu berkat hasil dari diversifikasi bisnis. Saat menghadapi gempuran aplikasi transportasi, Express langsung melebarkan sayap bisnis dengan meluncurkan taksi komisi berlabel Eagle.


Selain itu, perusahaan ini juga terjun ke bisnis sewa bus pariwisata serta  mengembangkan aplikasi pemesanan armada Express yaitu My Trip. Hasilnya, pendapatan Express bertambah 9% dari Rp 889,72 miliar menjadi Rp 970,09 miliar tahun lalu. "Tapi kami juga harus mengeluarkan dana besar untuk menset-up bisnis, itu menekan pertumbuhan laba," katanya kepada KONTAN, Senin (11/4).

Laba Express tahun lalu tergerus cukup dalam dari Rp 117,56 miliar di akhir 2014 menjadi Rp 32,26 miliar pada 2015. Salah satu biaya yang harus TAXI keluarkan adalah untuk kepentingan promosi.

Nah, untuk tahun ini, David berharap kinerja Express bisa lebih baik lagi dari tahun lalu lantaran ada aplikasi My Trip yang mulai bergigi.

Meski begitu, ia berharap pemerintah bisa berlaku adil dalam menerapkan regulasi antar pemain aplikasi transportasi seperti Uber atau GrabCar. Bila tarif aplikasi transportasi tersebut masih dibawah harga pasar bisa menyulitkan perusahaan transportasi termasuk TAXI untuk bersaing.

Apalagi, tarif taksi sudah diputuskan untuk dipangkas sebagai imbas dari harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium turun.

Belum tambah armada

Sementara itu Robert R. Refimasie, Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk mengaku kenaikan pendapatan BIRD tahun lalu karena hasil kinerja di awal tahun yang masih positif. Tahun lalu, pendapatan BIRD tumbuh 15% dari Rp 4,76 triliun menjadi Rp 5,47 triliun. Adapun laba perusahaan ini masih bisa naik 12,8% menjadi Rp 824,03 miliar.

Memang ia mengakui di awal 2015, aplikasi transportasi semacam Uber sudah beroperasi. Tapi untungnya kinerja Blue Bird belum terganggu. Tapi tatkala Grab mulai mengembangkan layanan Grabcar di November 2015, dengan tarif 40% di bawah argo Blue Bird, plus dukungan subsidi dari investor Grab kinerja Blue Bird terganggu.

Efeknya ternyata masih Blue Bird rasakan hingga kuartal satu tahun ini. Soalnya Grab masih menerapkan tarif subsidi meskipun tidak sebesar saat awal beroperasi.

Menurut Robert, dengan kondisi pasar bisnis taksi yang kurang sehat dengan kehadiran aplikasi transportasi, membuat laju bisnis perusahaan ini masih berat. Namun, ia masih belum bisa memberi informasi potensi pendapatan BIRD di kuartal satu tahun ini.

Lantaran kondisi belum stabil, manajemen Blue Bird pun masih belum memutuskan adanya tambahan armada untuk tahun ini. Kalau pun ada tambahan, katanya, kemungkinan untuk peremajaan armada yang sudah tua.

Lagi-lagi ia membandingkan dengan jumlah armada aplikasi transportasi yang bisa menambah armada secara bebas. Berbeda dengan perusahaan taksi seperti Blue Bird. Kalau ingin tambah armada harus berpatokan pada izin taksi yang didapat dari pemerintah daerah setempat. "Bila demand tidak kuat (di suatu daerah) bisa terjadi over supply,"  ujarnya.

Meski begitu, Blue Bird tidak patah arang. Bulan depan,  perusahaan transportasi ini akan merilis pengembangan aplikasi transportasi  yang tengah digodok.

Blue Bird mengklaim, aplikasi ini lebih lengkap secara fitur dari aplikasi sebelumnya. Nanti, BIRD akan menyiapkan aplikasi tersebut  dalam versi android dan iOS.




TERBARU

Close [X]
×