kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Bisnis Batu Bata Tertelikung Turunnya Pasar Properti


Sabtu, 04 April 2009 / 15:50 WIB


Reporter: Aprillia Ika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Sepinya pasar properti di tengah hantaman krisis global tak hanya berimbas pada sektor usaha properti itu sendiri. Sektor-sektor usaha pendukungnya pun turut tiarap. Salah satunya adalah industri pembuatan batu bata.

Praktis, sejak krisis meruyak, usaha ini bak mati suri. Beberapa pengusaha batu bata yang bisa bertahan adalah mereka yang punya modal usaha besar atau yang sesegera mungkin mengalihkan usahanya ke material bangunan lainnya.

Tengok saja pengalaman produsen batu bata Hasim Asyari yang membuka pabriknya di kawasan Mekarmukti, Cikarang Utara, Bekasi. Pemuda 30 tahun ini mengaku berat menjalankan bisnis turun temurun dari kakek buyutnya ini. "Untuk tetap bertahan, kami harus menahan produksi," ujarnya pemilik Batu Bata Press Barokah ini sendu.

Padahal sebelum krisis, Hasim bisa mencetak sekitar 10.000 batu bata mentah setiap harinya. Pekerjanya waktu itu sampai berjumlah 15 orang, kini hanya tinggal lima orang saja. "Saat ini produksi mandeg. Hanya menghabiskan stok yang ada saja," ujarnya lagi.
Hasim pun tak jarang harus membanting harga jual untuk mendapatkan orderan. Berdasarkan ketebalan batu bata, Hasim mempunyai dua jenis produk.

Produk pertama lebih tipis satu sentimeter dari produk kedua. Harganya Rp 240 per biji, bisa diantar sampai Jakarta. Sementara untuk pasar Tangerang, harganya jadi Rp 270 per biji.

Produk kedua yang lebih tebal, harganya Rp 270 per biji untuk pasar Jakarta. Sementara untuk pasar Tangerang jadi Rp 330 per biji.

Dari harga tersebut, Hasim mengaku tidak banyak mendapatkan untung. "Dapat margin 10% sampai 20% saja sudah bagus dalam kondisi saat ini," tukasnya. Walaupun usaha batu batanya menciut, toh Hasim tak patah asa. Dia yakin, setelah pemilu Presiden mendatang, keadaan bakalan lebih baik. "Makanya saat ini saya juga jualan pasir dan bahan material lainnya agar usaha saya tidak mati," tegasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×