kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

BRIN dan PalmCo Mengkaji Gas Biomethana dari Limbah Sawit


Kamis, 28 Mei 2026 / 19:45 WIB
BRIN dan PalmCo Mengkaji Gas Biomethana dari Limbah Sawit
ILUSTRASI. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo di Sumatera Utara (DOK/(PTPN) IV PalmCo)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Upaya mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil impor mulai mengarah ke sektor perkebunan sawit.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sub holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, tengah mematangkan kajian pengembangan bio compressed biomethane gas (Bio-CBG), gas biomethana berbasis limbah sawit yang diklaim memiliki kualitas setara compressed natural gas (CNG).

Energi hasil pengolahan limbah kelapa sawit itu diproyeksikan menjadi substitusi liquefied petroleum gas (LPG) impor. Sekaligus memperkuat bauran energi baru terbarukan nasional.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa mengatakan, pengembangan Bio-CBG bagian strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan limbah sawit menjadi energi bernilai tambah tinggi.

“Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan. Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” kata Jatmiko, dalam keterangannya, Selasa (26/5).

Menurut dia, proyek bersama BRIN fokus pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit alias palm oil mill effluent (POME) dan biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkadar tinggi. Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.

“Bio-CBG pada dasarnya "kembaran hijau" dari CNG dan dapat digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lain,” ujarnya.

Baca Juga: KAI Berhasil Angkut Hasil Perkebunan Hingga 162.261 Ton pada Kuartal I-2026

Langkah itu sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang tengah menekan ketergantungan impor energi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyatakan pemanfaatan gas domestik menjadi salah satu strategi untuk mengurangi beban impor LPG yang setiap tahun masih tinggi.

PalmCo saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit. Salah satu proyek yang sedang berjalan ialah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tinjowan, Sumatera Utara.

Bekerja sama dengan perusahaan mitra, PalmCo menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029. Pada tahun ini, perusahaan juga merencanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk delapan proyek baru.

“Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi,” ujar Jatmiko.

Dari sisi teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan audit energi dan evaluasi teknis di sejumlah fasilitas PalmCo, termasuk di Pabrik Kelapa Sawit dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar, Riau.

Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Putra mengatakan sektor sawit memiliki potensi besar untuk mendukung agenda transisi energi nasional apabila limbahnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Kajian ini tidak hanya menghitung potensi energi,  juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan,” ungkap Hens.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×