Reporter: Francisca Bertha Vistika | Editor: Francisca bertha
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan limbah kelapa sawit menyimpan potensi ekonomi besar sekaligus mendukung keberlanjutan industri. IPB University menilai, hilirisasi limbah sawit bisa menciptakan nilai tambah hingga puluhan triliun rupiah per tahun.
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Yanto Santosa mengatakan, limbah kelapa sawit bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi jika didukung teknologi yang tepat.
“Limbah kelapa sawit memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi,” ujarnya, Jumat (27/3).
Menurut dia, optimalisasi limbah sawit tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang usaha baru, mendukung ekonomi sirkular, hingga menghasilkan energi terbarukan.
Berdasarkan kajian akademik yang ia sampaikan, potensi nilai tambah dari hilirisasi limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) bisa mencapai Rp 12 triliun hingga Rp 28 triliun per tahun.
Nilai ini berasal dari berbagai sumber, mulai dari substitusi pupuk, produksi energi biogas, kredit karbon, hingga produk turunan lainnya.
Secara rinci, Yanto menghitung, substitusi pupuk dari limbah sawit bisa menyumbang Rp 6 triliun hingga Rp 13 triliun per tahun.
Baca Juga: Industri Sawit Tekankan Peran Strategis, Nilai Ekonomi Hilir Capai Rp750 Triliun
Sementara pemanfaatan biogas untuk listrik berpotensi menghasilkan Rp 4 triliun hingga Rp 9 triliun. Adapun kredit karbon dan produk turunan lainnya menyumbang tambahan Rp 2 triliun hingga Rp 6 triliun.
Dibandingkan dengan total nilai industri sawit nasional yang mencapai sekitar Rp 700 triliun hingga Rp 900 triliun per tahun, kontribusi hilirisasi limbah ini berkisar 1,5% hingga 4%.
“Pemanfaatan limbah sawit memberikan banyak manfaat penting,” tegas Yanto.
Ia menambahkan, secara strategis, manfaat terbesar tidak hanya pada tambahan pendapatan, tetapi juga efisiensi biaya produksi, penyediaan energi internal, serta penurunan emisi karbon industri sawit.
Meski potensinya besar, Yanto menilai pemanfaatan limbah sawit belum optimal. Hambatan utama bukan pada teknologi, melainkan regulasi dan keekonomian proyek.
“Meskipun potensi ekonomi hilirisasi limbah kelapa sawit sangat besar, hambatan utama yang mengemuka bukan pada teknologi, tetapi regulasi dan keekonomian proyek,” jelasnya.
Baca Juga: BPDP Dorong UMKM Terlibat dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat
Menurut dia, ketidakpastian kebijakan, belum optimalnya insentif, serta belum adanya kewajiban pengolahan limbah membuat proyek ini belum sepenuhnya layak secara bisnis.
Karena itu, ia mendorong peran pemerintah untuk memperkuat kebijakan, termasuk melalui insentif fiskal, pengembangan pasar karbon, hingga penetapan harga listrik berbasis energi terbarukan yang lebih kompetitif.
Sementara Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute Tungkot Sipayung menegaskan, industri sawit pada dasarnya menerapkan konsep zero waste.
“Yang tepat barangkali adalah produk utama dan produk sampingan. Produk samping ini banyak sekali jenisnya, mulai dari level kebun hingga hilir,” jelasnya.
Ia menilai, penggolongan produk sampingan sebagai limbah, bahkan sebagian sebagai limbah B3, justru menjadi hambatan dalam komersialisasi.
Ke depan, perbaikan regulasi diyakini akan mempercepat pengembangan industri berbasis limbah sawit. Selain meningkatkan nilai tambah, langkah ini juga berpotensi menekan emisi dan memperkuat posisi sawit sebagai industri rendah karbon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













