Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan tambang mulai ramai menggali potensi cuan melalui pengembangan tambang bawah tanah. Komoditas yang ditambang bervariasi, mulai dari emas, tembaga, hingga seng dan timah hitam.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi dua di antara perusahaan yang sedang aktif menggarap proyek tambang bawah tanah. BRMS memiliki dua proyek tambang bawah tanah, salah satunya digarap oleh PT Dairi Prima Mineral (DPM), yang akan memproduksi komoditas seng dan timah hitam.
DPM merupakan kongsi antara BRMS dengan porsi kepemilikan saham 49%, bersama NFC (Hong Kong) Metal Resources Company Limited yang menggenggam 51% saham. Berlokasi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, DPM akan mengembangkan prospek tambang Anjing Hitam dan Lae Jehe.
Baca Juga: Ekspor Toyota Indonesia Naik 10,7% Sepanjang Semester I-2026
Technical Manager Dairi Prima Mineral, Widianto mengungkapkan bahwa pada tahun ini DPM telah mengantongi persetujuan akhir studi kelayakan serta izin lingkungan dari adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). DPM akan terlebih dulu menggarap prospek tambang Anjing Hitam, yang berdasarkan estimasi tahun 2025 memiliki sumber daya sebanyak 8,53 juta ton dengan kadar seng 13,8% dan timah hitam 7,9%.
Setelah dikonversi, Anjing Hitam memiliki cadangan 7,70 juta ton dengan kadar seng 12,5% dan timah hitam 7,3%. DPM mengestimasikan proyek pengembangan tambang bawah tanah dari prospek Anjing Hitam dan pembangunan fasilitas pengolahan bijih akan menyerap investasi sekitar US$ 450 juta.
DPM akan memulai proyek tambang bawah tanah dan pembangunan fasilitas pengolahan bijih pada kuartal I-2027. Proses konstruksi diproyeksikan berlangsung sekitar dua tahun. "Jadi harapannya, InsyaAllah pada kuartal IV-2028 kami sudah mulai mendapatkan ore (bijih) dari tambang bawah tanah. Kemudian untuk proses pengolahannya kami bisa mulai pada kuartal I-2029," ungkap Widianto dalam Diskusi Tambang Bawah Tanah Modern, yang berlangsung pada Senin (27/7/2026).
Pabrik pengolahan DPM dirancang untuk mengolah bijih dengan kapasitas 1 juta ton bijih kering per tahun. Selain konsentrat seng dan konsentrat timah hitam, hasil dari pengolahan bijih juga akan menghasilkan konsentrat sulfur.
"Jadi komoditas yang kami sedang rencanakan untuk diproduksi ini, timah hitam dan seng merupakan klasifikasi mineral kritis dan strategis. Jadi harapannya kami bisa merealisasikan proyek DPM ini," kata Widianto.
Selain tambang bawah tanah seng dan timah hitam, BRMS juga sedang menggarap tambang emas bawah tanah melalui PT Citra Palu Minerals. Merujuk Laporan Keberlanjutan Tahun 2025, BRMS menargetkan tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, dapat mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2027.
Prospek tambang emas bawah tanah ini menunjukkan potensi kandungan emas yang relatif tinggi, yaitu sekitar 3,5 – 4,9 gram per ton. Proyek ini diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan produksi dan kinerja keuangan BRMS dalam jangka menengah dan panjang.
MDKA tak ketinggalan untuk menggali potensi cuan dari tambang bawah tanah, yakni melalui Proyek Tembaga Tujuh Bukit (TB Copper). Melalui anak usahanya, PT Bumi Suksesindo, MDKA sedang menggarap tambang tembaga yang berada di bawah Tambang Emas Tujuh Bukit, Banyuwangi, Jawa Timur.
Head of Corporate Communication Merdeka Copper Gold, Tom Malik mengungkapkan sampai saat ini MDKA telah menginvestasikan lebih dari US$ 200 juta untuk studi kelayakan yang terperinci. Termasuk pembangunan decline (terowongan bawah tanah) eksplorasi sepanjang 1.890 meter, pengeboran untuk mendefinisikan sumber daya, pemodelan geologi, studi teknis, dan studi pra-kelayakan atau Pre-Feasibility Study (PFS) yang rampung pada Mei 2023.
"PFS tersebut menegaskan manfaat ekonomi yang tinggi untuk pengembangan tambang bawah tanah ini, yang berumur panjang dan signifikan secara global dengan pendekatan bertahap. Saat ini TB Copper dalam tahap Studi Kelayakan (FS) dengan mengintegrasikan hasil-hasil dari optimalisasi pasca PFS," ungkap Tom saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (27/7/2026).
Per 31 Desember 2025, proyek ini memiliki estimasi sumber daya mineral atau Mineral Resources Estimate (MRE) sebesar 1,77 miliar ton dengan kadar 0,47% tembaga dan 0,49 gram per ton emas, yang mengandung sekitar 8,3 juta ton tembaga dan 28,1 juta ons emas. MDKA mengklaim bahwa TB Copper merupakan salah satu proyek tembaga-emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan.
Baca Juga: Bisnis Pemakaman Bergeliat, AMG Siapkan Ekspansi
Saat ini, MDKA fokus mengoptimalkan kinerja dan memulai menyusun Bankable Feasibility Study. Optimalisasi tersebut mencakup pengembangan metalurgis untuk meningkatkan perolehan logam yang dapat diekstrak dari bijih, peningkatan kualitas bijih yang ditambang, dan penambangan terbuka untuk bijih tembaga tambahan. "Nilai investasi dan time line pengembang proyek akan dilaporkan setelah Bankable Feasibility Study diterbitkan," ujar Tom.
Peluang & Tantangan Tambang Bawah Tanah
Pada sisi yang lain, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menyoroti bahwa sejauh ini belum banyak tambang bawah tanah yang beroperasi di Indonesia. Tambang tembaga PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua Tengah menjadi tambang bawah tanah dengan skala operasional terbesar saat ini.
Di samping itu, ada tambang emas bawah tanah PT Antam (Persero) Tbk di Pongkor, serta tambang emas bawah tanah Gosowong PT Nusa Halmahera Mineral di Maluku Utara. Selain komoditas mineral, ada tambang bawah tanah batubara PT Sumber Daya Energi, yang berlokasi di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Menurut Sudirman, potensi tambang bawah tanah di Indonesia cukup menarik mengingat Indonesia masih memiliki sumberdaya mineral dan batubara yang cukup besar. Sumberdaya tersebut ada yang sudah tidak ekonomis jika harus ditambang dengan menggunakan metode tambang terbuka, karena akan mengeluarkan biaya operasional yang sangat besar untuk pembukaan lahannya.
Keunggulan lain dari tambang bawah tanah adalah dapat menekan potensi kerusakan lingkungan dibandingkan operasional tambang terbuka. "Meski memiliki tantangan berupa biaya investasi yang relatif besar, teknologi pertambangan bawah tanah saat ini sudah semakin maju untuk dapat menekan biaya operasional," ungkap Sudirman saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (27/7/2026).
Selain soal faktor teknis, teknologi dan keekonomian, hal krusial yang harus menjadi perhatian adalah faktor keselamatan kerja, mengingat ada banyak potensi risiko bahaya di dalam mengoperasikan tambang bawah tanah. "Tentunya diperlukan kedisiplinan yang sangat kuat bagi manajemen dan pekerja dari sebuah proyek tambang bawah tanah untuk dapat secara konsisten menerapkan standar operasional dan keselamatan kerja," tegas Sudirman.
Ketua Bidang Advokasi Hukum Perhapi, Eva A. Djauhari menambahkan bahwa kepastian hukum turut menjadi faktor krusial dalam pengembangan tambang bawah tanah yang membutuhkan investasi besar. Eva menyoroti tantangan dari sisi konsistensi regulasi hingga penegakan hukum yang bisa memengaruhi keberlanjutan bisnis hingga minat investasi.
"Harapannya kepastian hukum dan regulasi bisa lebih matang. Dalam menerbitkan suatu atuaran dikaji terlebih dulu dampaknya seperti apa, sehingga industri ini bisa berjalan lebih bagus lagi," tandas Eva.
Baca Juga: GIIAS 2026 Bakal Jadi Arena Adu Produk Baru APM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














