CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.628   62,00   0,35%
  • IDX 6.495   -94,75   -1,44%
  • KOMPAS100 854   -12,04   -1,39%
  • LQ45 647   -9,15   -1,39%
  • ISSI 226   -3,87   -1,68%
  • IDX30 360   -5,24   -1,44%
  • IDXHIDIV20 447   -5,03   -1,11%
  • IDX80 97   -1,39   -1,41%
  • IDXV30 125   -1,24   -0,98%
  • IDXQ30 115   -1,71   -1,47%

Produksi Batubara 2026 Diproyeksi Melandai, Logistik dan Regulasi Jadi Tantangan


Jumat, 11 September 2026 / 13:26 WIB
Produksi Batubara 2026 Diproyeksi Melandai, Logistik dan Regulasi Jadi Tantangan
ILUSTRASI. PELNI Angkut 335.415 Metrik Ton Batubara ke PLTU pada Semester I-2026 (PELNI/dok)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi batubara nasional sampai akhir tahun 2026 diproyeksikan berada di kisaran 700 juta hingga 720 juta ton, melandai dibandingkan realisasi tahun lalu. 

Direktur PT Zubay Mining Indonesia, Muhammad Emil mengungkapkan, penurunan produksi batubara tahun ini tidak hanya dipicu oleh kendala teknis di lapangan. Kebijakan pemerintah dalam menata ulang Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sejak awal tahun turut mengarahkan industri menuju tingkat produksi yang lebih optimal.

"Dari awal 2026 pemerintah memang melakukan penyesuaian RKAB dan sempat mengarahkan produksi nasional sekitar 600 juta ton untuk menjaga keseimbangan supply-demand, harga batubara dan cadangan nasional. Jadi secara politik dan kebijakan energi, sekarang arahnya bukan lagi mengejar produksi setinggi-tingginya, tetapi lebih ke optimum production dan peningkatan penerimaan negara," ujarnya kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).

Baca Juga: Produksi Batubara Diproyeksi Turun, APBI: Outlook Realisasi Dipengaruhi Banyak Faktor

Selain penyesuaian target produksi, Emil menilai perubahan tata kelola ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi dinamika baru bagi pelaku usaha.

Menurutnya, kehadiran sistem satu pintu ini diharapkan dapat memperkuat kontrol volume dan devisa, meskipun kelancaran proses administrasi di lapangan tetap perlu dijaga agar tidak menghambat pengiriman.

"Menurut saya ini positif untuk tata kelola, tetapi industri tentunya masih perlu melihat implementasinya supaya jangan sampai menambah proses administrasi atau mengganggu kecepatan ekspor," katanya.

Secara kalkulasi, pencapaian target produksi 720 juta ton hingga akhir tahun 2026 dinilai masih cukup realistis mengingat realisasi hingga Juli telah mencapai 423,7 juta ton. Namun, Emil memproyeksikan rentang angka 700 juta hingga 720 juta ton sebagai batas aman lantaran besarnya tantangan operasional di semester kedua.

"Tapi menurut saya range yang lebih aman sekitar 700–720 juta ton. Risiko terbesarnya sekarang selain kebijakan RKAB adalah kondisi operasional dan logistik. Kemarau dan penurunan debit Sungai Mahakam maupun Barito bisa membatasi draft serta muatan tongkang. Jadi tambangnya mungkin masih bisa produksi, tetapi coal evacuation dari stockpile menuju port bisa menjadi bottleneck," terangnya.

Lebih lanjut, Emil menyimpulkan, realisasi pengiriman dan produksi batubara nasional pada kuartal IV akan sangat bergantung pada efektivitas rantai pasok dan kondisi cuaca. 

Dia bilang, efisiensi evakuasi batubara di jalur sungai serta kesiapan pelaksanaan kebijakan ekspor baru akan menjadi penentu dalam mencapai target hingga penghujung tahun.

Baca Juga: Perkembangan Kecerdasan Buatan Mengubah Kebutuhan Pengguna Laptop Gaming

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×