Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Negara-negara di kawasan Timur-Tengah, termasuk Saudi Arabia ternyata bukan negara sumber impor minyak mentah (crude oil) maupun impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jadi terbesar bagi Indonesia.
Anggota Komite BPH Migas sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Aspebindo (Asosiasi Pemasok Energi Mineral dan Batubara Indonesia) Fathul Nugroho menyebut sumber impor minyak bagi Indonesia masih diisi oleh negara-negara di Afrika, utamanya Nigeria dan Angola.
“Yang paling banyak dari Afrika, termasuk dari Nigeria dan Angola. Dan negara-negara lainnya ini termasuk dengan Australia,” ungkap Fathul dalam agenda ASPEBINDO yang dilaksanakan di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: ESDM: Pertamina Bakal Gandeng Investor Asing Bangun Storage Minyak 90 Hari di Sumatra
Menurutnya, Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak. Sehingga konflik yang saat ini tengah terjadi antara Iran dan Amerika-Israel yang menyebabkan harga minyak melonjak dan pasokan terhambat, bisa dihindari.
“Artinya kita bicara security of suplay, kita sudah baik. Baik yang dari luar maupun dalam negeri. Kita juga sedang mengejar target APBN dan sekarang sudah di kisaran itu,” tambah dia.
Lebih detail, berikut adalah negara-negara pengekspor minyak terbesar ke tanah air. Dengan nomor satu berasal dari Nigeria:
- Nigeria – volume impor: 34,07 juta barel – persentase impor: 25%
- Angola – volume impor: 28,5 juta barel – persentase impor: 21%
- Saudi Arabia – volume impor: 25,36 juta barel – persentase impor: 19%
- Negara Lainnya – volume impor: 47,40 juta barel – persentase impor: 35%.
Dalam prakteknya, Fathul bilang, Indonesia mengimpor minyak dalam dua jenis atau kategori. Yang pertama jenis minyak mentah atau crude oil yang harus dicampur atau diberikan treatment khusus di dalam negeri melalui kilang. Dan yang kedua impor dalam bentuk BBM jadi.
“Kebutuhan kita per day itu sekitar 1,6 juta barel dalam bentuk crude, kalau dalam bentuk BBM jadi itu sekitar 250 ribu kl per hari. Ini yang kita impor kira-kira setengahnya dalam bentuk crude dan setengahnya lagi dalam bentuk BBM jadi,” jelasnya.
Baca Juga: Adaro Minerals (ADMR) Siapkan Capex Hingga US$ 240 Juta di Tahun 2026
Lebih lanjut, sesuai dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, BPH Migas menjamin cadangan operasional BBM di Indonesia aman hingga lebaran Idul Fitri tahun ini.
Berikut adalah cadangan operasional BBM di Indonesia berdasarkan data BPH Migas:
- Bensin: 25,7 hari dengan kapasitas 2,77 juta kilo liter
- Solar + Biosolar dibagi menjadi Solar (CN 48): 16,2 hari dengan kapasitas 1,3 juta kilo liter dan Dex (CN 53): 45,3 hari dengan kapasitas 89,7 juta kilo liter
- Avtur: 37,6 hari dengan kapasitas 526,66 ribu kilo liter.
“Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman hingga setelah momentum Ramadan dan Idul Fitri 2026,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













