kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Chatbot AI Makin Dominan, Brand Perlu Strategi Baru untuk Menjangkau Konsumen


Jumat, 05 Juni 2026 / 21:31 WIB
Chatbot AI Makin Dominan, Brand Perlu Strategi Baru untuk Menjangkau Konsumen
ILUSTRASI. Ilustrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) (Dado Ruvic/REUTERS)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan perilaku konsumen dalam mencari informasi mulai memunculkan kebutuhan baru bagi perusahaan. Jika sebelumnya visibilitas merek ditentukan oleh posisi di mesin pencari seperti Google, kini brand juga dituntut untuk hadir dalam jawaban platform kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, hingga Google AI Overviews.

Perubahan tersebut mendorong lahirnya kategori baru dalam pemasaran digital yang dikenal sebagai AI Optimization (AIO), yakni upaya meningkatkan peluang sebuah merek direkomendasikan oleh sistem AI ketika pengguna mencari informasi atau rekomendasi produk.

Melihat tren tersebut, perusahaan teknologi pemasaran digital Avonetiq meluncurkan AVO AI, platform yang dirancang untuk membantu perusahaan memantau sekaligus meningkatkan visibilitas brand di berbagai platform AI.

Baca Juga: SPKS Tolak Rencana Kenaikan Harga Minyakita, Usul Dana BPDP Jadi Penyangga

Co-Founder & Partner Avonetiq, Alexandro Wibowo, mengatakan perusahaan saat ini menghadapi lanskap yang berbeda dibanding era mesin pencari konvensional.

"Jadi sekarang sudah berbeda dunianya dengan yang lalu. Kalau kita tidak ada di sini, ya sudah tidak dibicarakan namanya. Kita memberikan pengetahuan untuk mengukur itu dan bagaimana mengimprove supaya bisa masuk di sana," ujar Alexandro di Jakarta, Jumat (5/6).

Menurut dia, banyak tim pemasaran mulai menyadari pentingnya optimasi di platform AI, namun masih kebingungan menentukan langkah yang harus dilakukan.

"Nah mungkin dia optimasi secara bebas, bingung. Makanya kami buat tools AVO AI ini supaya ada step by step. Jadi walaupun baru di AI, mereka tinggal mengikuti langkah-langkah yang direkomendasikan," katanya.

Kebutuhan tersebut muncul seiring meningkatnya penggunaan AI sebagai sumber informasi. Gartner memperkirakan volume penggunaan mesin pencari tradisional akan turun hingga 25% pada 2026 karena pengguna beralih ke chatbot AI dan virtual agents. Sementara Adobe Analytics mencatat trafik dari platform AI generatif menuju situs ritel melonjak 1.200% dalam tujuh bulan terakhir.

Perubahan ini dinilai cukup signifikan bagi brand. Jika pada mesin pencari pengguna masih dapat melihat banyak pilihan dalam satu halaman, platform AI umumnya hanya menampilkan beberapa rekomendasi utama.

Co-Founder & Partner Avonetiq, Ryan Gondokusumo, menilai kondisi tersebut membuat persaingan antar merek menjadi semakin ketat.

"Kalau zaman dulu di Google masih ada 10 listing. Sekarang tidak ada. Paling dua brand atau tiga brand yang muncul dalam jawaban AI. Kalau brand kita tidak muncul, yang muncul kompetitor," ujarnya.

Melalui AVO AI, pengguna dapat memantau kemunculan brand di enam model AI, yakni ChatGPT, Gemini, DeepSeek, Claude, Perplexity, dan Google AI Overview. Ke depan, perusahaan juga berencana menambahkan dukungan untuk platform lain seperti Copilot.

Ryan mengklaim AVO AI merupakan platform pertama di Indonesia yang secara khusus membantu perusahaan mengukur visibilitas merek di platform AI. Saat ini Avonetiq juga tengah menjajaki ekspansi ke pasar Taiwan dan Jepang.

Menurut Ryan, keunggulan utama AVO AI tidak hanya menampilkan skor atau tingkat visibilitas suatu brand, tetapi juga memberikan panduan mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan peluang direkomendasikan AI.

"Tools ini bukan cuma memperlihatkan skor. Tools ini benar-benar memberitahukan apa yang harus dilakukan supaya visibility dan otoritas brand meningkat," katanya.

Dari sisi biaya, AVO AI ditawarkan mulai US$ 49 per bulan atau sekitar Rp 790.000 per bulan untuk pengguna korporasi. Untuk agensi, perusahaan menyediakan paket yang memungkinkan audit beberapa brand sekaligus.

Ryan menilai investasi tersebut relatif kecil dibanding potensi dampaknya terhadap visibilitas brand di masa depan.

"Kalau sekarang perusahaan masih fokus ke SEO, sebenarnya SEO itu sedang berubah menjadi AIO. Ini menjadi kebutuhan baru karena perilaku konsumen juga sudah berubah," ujarnya.

Alexandro menambahkan, kemampuan sebuah merek untuk muncul dalam jawaban AI akan semakin menentukan proses pengambilan keputusan konsumen.

"Sebelumnya brand fokus mencari cara agar ditemukan di mesin pencari. Sekarang tantangannya berkembang menjadi bagaimana brand direpresentasikan dalam jawaban AI. Ke depan, kemampuan sebuah brand untuk dipahami dan direkomendasikan oleh AI akan menjadi faktor penting yang memengaruhi cara konsumen menemukan, mengenal, dan mempertimbangkan sebuah produk maupun layanan," pungkasnya.

Baca Juga: Bidik Kenaikan Produktivitas Beras, Syngenta Luncurkan Fungisida Baru untuk Padi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×