Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) meminta pemerintah tidak menaikkan harga minyak goreng Minyakita karena dinilai akan semakin membebani masyarakat di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
SPKS menilai masyarakat saat ini sudah menghadapi berbagai beban, mulai dari mahalnya bahan pangan hingga kenaikan harga pupuk.
Di sisi lain, petani sawit juga masih terdampak pemotongan harga tandan buah segar (TBS) akibat kebijakan bea keluar (BK) dan pungutan ekspor (PE) sawit.
Organisasi petani tersebut mengkritik pemanfaatan dana pungutan ekspor sawit yang selama ini dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP). Menurut SPKS, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk mendukung program biodiesel yang lebih banyak dinikmati industri sawit skala besar.
Baca Juga: Naik! Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Senin (8/12) Catat Ya!
Ketua Umum SPKS Sabarudin menegaskan, pemerintah seharusnya memanfaatkan dana pungutan ekspor sawit untuk menjaga harga Minyakita tetap terjangkau bagi masyarakat.
"Jika data DMO dan PSO transparan, maka kebutuhan dana untuk menopang harga jual Minyakita supaya tidak naik bisa berasal dari dana PE yang dikelola BPDP, ketimbang hanya dinikmati oleh segelintir perusahaan besar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (5/6/2026).
SPKS menilai skema tersebut dapat menjadi solusi atas potensi kenaikan harga Minyakita akibat naiknya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global.
Organisasi itu juga mendorong transparansi pelaksanaan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Public Service Obligation (PSO) agar kebutuhan pasokan dan anggaran subsidi Minyakita dapat diketahui publik.
Baca Juga: Naik! Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Rabu (10/12) Tengok Yuk!
Menurut SPKS, penggunaan dana BPDP untuk menopang harga Minyakita akan lebih mencerminkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat luas sekaligus meringankan beban ekonomi rumah tangga berpendapatan rendah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













