kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.612.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Harga Produk Ritel Impor Naik Imbas Pelemahan Rupiah, Ini Strategi Peritel


Minggu, 26 Juli 2026 / 17:16 WIB
Harga Produk Ritel Impor Naik Imbas Pelemahan Rupiah, Ini Strategi Peritel
ILUSTRASI. Penjualan ritel busana (KONTAN/Muradi)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menyebut kenaikan harga barang atau produk ritel yang diimpor, khususnya dalam kategori fesyen, telah terjadi sejak Mei 2026.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah mengatakan, kenaikan harga produk impor terjadi hingga Juli 2026 ini dengan persentase kenaikan yang bervariasi.

"Saat ini nilai tukar rupiah masih di Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), jadi perhitungan barang impor sudah menggunakan rate terbaru di Rp 18.000," jelasnya kepada Kontan, Minggu (26/7/2026).

Jika rupiah terus melemah, kenaikan harga produk ritel impor disebut berpotensi berlanjut terutama jika stok telah habis, meskipun saat ini secara umum stok barang masih tersedia.

Baca Juga: Strategi Mayora Indah (MYOR) Tetap Optimistis di Semester II-2026

Menurut Budihardjo, tak hanya sektor fesyen, tetapi produk ritel di sektor-sektor lainnya juga berpotensi mengalami kenaikan harga ke depan.

"Produk-produk rumah tangga, alat pertukangan, optik, dan lain sebagainya juga pasti akan otomatis naik jika stoknya habis," lanjutnya.

Untuk itu, peritel saat ini terus melakukan berbagai upaya seperti peluncuran produk-produk baru guna meningkatkan daya tarik pembeli.

Budihardjo bilang pelaku usaha juga berupaya menghabiskan stok lama untuk membeli produk-produk baru yang lebih laku di pasaran. "Hal ini dilakukan agar pergerakan cashflow (arus kas) perusahaan lancar," imbuhnya.

Baca Juga: Peritel Mal Maksimalkan Momentum Ramadan, Hippindo Dorong Konsumsi dari THR dan BHR

Lebih lanjut, pelaku usaha juga menggenjot efisiensi, salah satunya dengan penggunaan artificial intelligence (AI). Menurut Budihardjo, perusahaan di sektor ritel mulai memanfaatkan AI untuk pemasaran dan kebutuhan media sosial sebagai upaya mengurangi biaya karyawan.

"Untuk analisis-analisis big data, juga kita sudah menggunakan AI, dan itu diharapkan bisa menekan biaya operasional perusahaan," pungkasnya.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Mulai Picu Kenaikan Harga Produk di Industri Ritel

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×