kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

China tertarik bangun jembatan Dumai-Malaka


Kamis, 03 April 2014 / 17:08 WIB
ILUSTRASI. BUMN Bank BRI Buka Lowongan Kerja Terbaru, Terbuka untuk Banyak Jurusan. KONTAN/Carolus Agus Waluyo


Reporter: Muhammad Yazid | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Kontraktor asal China yakni China Machinery Engineering Corporation (CMEC), menyatakan ketertarikannya untuk mengerjakan pembangunan jembatan yang menghubungkan daratan Indonesia dan Malaysia. Mulai dari Kota Dumai di Provinsi Riau, ke Pulau Rupat, dan tersambung menuju ke Malaka, Malaysia.

Kontraktor asal Negeri Panda tersebut mengutarakan minatnya di sela-sela acara Ceremony Design and Build of Coal Power Plant 3X150 Megawatt (MW) in Pelintung, Dumai, di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (3/4).

"Selain kami mampu membangun pembangkit listrik, kami juga siap untuk menjadi kontraktor pembangunan jembatan Dumai - Rupat - Malaka," kata Chao Yaejun, Vice General Manager CMEC. Pihaknya sangat siap untuk menggelar konstruksi jembatan sepanjang 41 kilometer (km) tersebut apabila ditunjuk pemerintah daerah setempat.

Namun Wali Kota Dumai, Khairul Anuar, tidak mau buru-buru menanggapi tawaran tersebut. Menurutnya, jembatan Dumai - Rupat - Malaka belum sangat mendesak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baik di Provinsi Riau ataupun Sumatera secara umum.

"Kalau Jembatan Selat Sunda sudah terbangun, dan jalan trans Sumatera yang menghubungkan Aceh hingga ke Lampung sudah direalisasikan, barulah jembatan Dumai - Rupat - Malaka bisa dibangun," kata Khairul.

Dia menambahkan, pertumbuhan perekonomian di wilayah Sumatera akan terancam manakala jalur darat Malaysia dan Indonesia terhubung lebih dahulu sebelum jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Sumatera dan Jawa.

"Seharusnya, distribusi produk-produk dari Jawa lancar lebih dahulu ke wilayah Sumatera, barula jembatan Dumai - Rupat - Malaka bisa dibangun," ujar Khairul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×