Reporter: Vina Elvira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen OBH Combi, PT Combiphar menaruh perhatiannya terhadap industri farmasi nasional yang tengah menghadapi tantangan, seiring kenaikan harga bahan baku impor dan terganggunya rantai pasok global akibat dinamika geopolitik.
Direktur PT Combiphar Weitarsa Hendarto mengatakan, tekanan tersebut tidak hanya dirasakan industri farmasi, tetapi juga ekonomi secara umum, bahkan global.
Saat ini perusahaan masih melakukan assessment untuk melihat sejauh mana dampak yang ditimbulkan. Namun, gangguan pada rantai pasok memang sudah mulai terasa, terutama karena ketergantungan industri farmasi terhadap bahan baku impor.
Baca Juga: MTDL Ungkap Bisnis Metrodata Seluruhnya Alami Tren Positif pada Kuartal I-2026
“Yang pasti kita tahu bahwa pasokan atau supply chain itu terganggu. Produk-produk pharmaceutical tentu kita juga punya ketergantungan dengan impor. Jadi supply impor bisa terganggu, packaging, belum lagi mungkin dampak dari currency dan lain-lain. Ini semua punya dampak yang kurang baik,” ungkap Weitarsa saat dijumpai media, Selasa (14/4/2026).
Meski demikian, Combiphar tetap optimistis dapat menghadapi tekanan tersebut. Menurutnya, industri farmasi telah terbiasa menghadapi berbagai tantangan dalam setiap periode, mulai dari krisis ekonomi hingga pandemi.
“Kita sudah banyak tantangan. Tiap periode kita punya tantangan sendiri. Zaman Covid kita ada tantangan, zaman krisis ekonomi juga. Jadi kita berusaha melakukan yang terbaik supaya tetap bisa memberikan solusi untuk masyarakat, dan perusahaan juga bisa weathering this kind of crisis,” katanya.
Baca Juga: Metrodata Electronics (MTDL) Catat Bisnis Ponsel Merek Infinix Tumbuh Dobel Digit
Dari sisi mitigasi, perusahaan saat ini masih dalam tahap evaluasi dan pengkajian. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kerja sama dengan pemasok untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku.
Di tengah tekanan tersebut, Combiphar memastikan ketersediaan produk bagi konsumen masih terjaga. Hingga saat ini, perusahaan mengaku belum mengalami gangguan signifikan dalam penyaluran produk ke pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













