Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi industri manufaktur nasional. Namun, manfaat yang muncul lebih bersifat meredakan tekanan biaya produksi ketimbang menjadi solusi menyeluruh bagi berbagai persoalan yang dihadapi sektor manufaktur.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan gangguan di kawasan Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir telah mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan ketidakpastian rantai pasok global.
Menurutnya, normalisasi jalur pelayaran tersebut berpotensi mengurangi tekanan biaya sehingga pelaku industri memiliki ruang bernapas yang lebih besar. Meski begitu, dampak positifnya diperkirakan tidak akan berlangsung instan karena tantangan manufaktur Indonesia sebagian besar masih bersifat struktural.
Baca Juga: Wajib Sertifikasi Halal Berlaku 17 Oktober, Industri dan Pelaku UMKM Harus Hadapi
"Pembukaan Selat Hormuz lebih tepat dipandang sebagai faktor yang meringankan tekanan biaya, bukan solusi yang mengubah keadaan secara menyeluruh," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).
Yusuf menjelaskan, sektor yang paling cepat merasakan manfaat adalah industri yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku berbasis minyak dan gas. Di antaranya industri petrokimia, plastik, serat sintetis, keramik, kaca, hingga baja.
Stabilitas pasokan energi global berpotensi menurunkan biaya produksi dan memperbaiki margin keuntungan yang sebelumnya tergerus oleh kenaikan harga bahan baku. Namun, transmisi penurunan harga energi ke tingkat industri membutuhkan waktu.
"Penurunan harga minyak dunia biasanya tidak langsung tercermin pada harga bahan baku yang dibeli pabrik, sementara normalisasi rantai pasok global juga berlangsung bertahap," jelasnya.
Di sisi lain, Yusuf menilai manfaat dari penurunan harga energi masih dibayangi tekanan nilai tukar rupiah. Pasalnya, sebagian besar industri manufaktur nasional masih bergantung pada impor bahan baku, komponen, maupun mesin produksi.
Selama nilai tukar rupiah masih lemah, biaya produksi dalam rupiah tetap tinggi meskipun harga komoditas global mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat peningkatan daya saing industri tidak terjadi secara otomatis.
Menurut Yusuf, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan penurunan biaya energi dalam mengimbangi kenaikan biaya akibat depresiasi rupiah.
Selain persoalan biaya, tantangan manufaktur juga datang dari sisi permintaan. Tingkat utilisasi di sejumlah sektor masih relatif rendah, yang menunjukkan banyak pabrik belum beroperasi pada kapasitas optimal.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa persoalan manufaktur tidak hanya terkait mahalnya energi, tetapi juga lemahnya permintaan pasar serta meningkatnya persaingan akibat masuknya produk impor.
Tekanan semakin besar seiring adanya pengalihan arus perdagangan dari negara-negara yang terdampak perang dagang dan dugaan praktik transshipment. Dalam kondisi tersebut, penurunan harga energi hanya membantu dari sisi biaya produksi, sementara persoalan pasar memerlukan kebijakan tersendiri.
Yusuf menambahkan, Selat Hormuz juga bukan jalur utama ekspor manufaktur Indonesia menuju pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Oleh sebab itu, manfaat logistik yang diperoleh lebih bersifat tidak langsung melalui penurunan premi risiko pengiriman, biaya bahan bakar kapal, dan premi asuransi.
"Faktor yang lebih menentukan prospek manufaktur ke depan tetap akses pasar ekspor serta kekuatan permintaan, baik dari dalam maupun luar negeri," pungkasnya.
Baca Juga: Hanasui Ekspor ke Jepang, Produk Serum Bakal Dijual di 1.500 Gerai Ritel Jepang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













