kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.088   5,00   0,03%
  • IDX 6.148   56,58   0,93%
  • KOMPAS100 806   9,69   1,22%
  • LQ45 615   8,17   1,35%
  • ISSI 212   1,88   0,89%
  • IDX30 346   4,71   1,38%
  • IDXHIDIV20 426   4,03   0,95%
  • IDX80 92   1,14   1,25%
  • IDXV30 116   0,74   0,64%
  • IDXQ30 111   1,46   1,34%

Cushman & Wakefield: Pasar Perkantoran Jakarta Berangsur Pulih di Semester I-2026


Kamis, 30 Juli 2026 / 11:31 WIB
Cushman & Wakefield: Pasar Perkantoran Jakarta Berangsur Pulih di Semester I-2026
ILUSTRASI. Kawasan CBD Kuningan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar properti perkantoran Jakarta menunjukkan tren pemulihan pada semester I-2026. 

Hal ini tercermin dari peningkatan penyerapan ruang, membaiknya tingkat hunian, serta prospek permintaan yang diperkirakan tetap positif hingga akhir tahun.

Director of Strategic Consulting Cushman & Wakefield Arief Rahardjo mengatakan, di kawasan central business district (CBD), tidak terdapat tambahan pasokan baru selama semester pertama 2026 sehingga total stok perkantoran tetap sekitar 7,4 juta meter persegi hingga akhir Juni 2026. 

“Belum ada proyek baru yang diperkirakan akan masuk pasar pada tahun 2026,” ungkap Arief, dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026) lalu. 

Baca Juga: Demand Properti Melambat, Pembeli Beralih ke Rumah Secondary dan Kota Penyangga

Dari sisi permintaan, pasar perkantoran CBD kembali mencatat penyerapan bersih (net take-up) positif sebesar 26.000 meter persegi pada kuartal II-2026. Dengan demikian, total penyerapan bersih selama enam bulan pertama tahun ini mencapai 45.500 meter persegi.

Sebagian besar permintaan ini masih didominasi oleh gedung perkantoran Grade-A. Sebaliknya, gedung perkantoran Grade-C mencatat penyerapan bersih negatif sekitar 13.000 m2, akibat dari relokasi penyewa ke gedung perkantoran Grade-A yang menawarkan kualitas lebih baik.

Selain itu, sejumlah transaksi sewa berskala besar juga tercatat di kompleks District 8, kawasan SCBD Sudirman, termasuk dari sebuah institusi perbankan dan perusahaan asal Tiongkok. 

Didukung penyerapan bersih yang positif serta tidak adanya pasokan baru selama kuartal II-2026, tingkat hunian perkantoran CBD meningkat 0,4 poin persentase menjadi 77,2% pada akhir Juni 2026.

Dari sisi harga, rata-rata tarif sewa dasar (base rent) dalam denominasi rupiah naik menjadi Rp 178.400 per meter persegi per bulan atau meningkat 1% secara kuartalan (QoQ) dan 3,9% secara tahunan (YoY). 

Sementara itu, dalam denominasi dolar Amerika Serikat, tarif sewa dasar turun 4,2% secara kuartalan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Adapun service charge tetap stabil di level Rp 95.400 per meter persegi per bulan.

Untuk kawasan non-CBD, Cushman & Wakefield mencatat belum ada tambahan pasokan baru selama semester pertama 2026 sehingga total stok tetap berada di sekitar 5,11 juta meter persegi. 

Meski demikian, terdapat empat proyek baru yang diperkirakan akan masuk pasar pada tahun ini dengan total luas ruang kantor mencapai 119.000 meter persegi.

Baca Juga: APPBI: 95% Pusat Perbelanjaan di Indonesia Berada di Segmen Menengah Bawah

Permintaan ruang perkantoran non-CBD juga menunjukkan tren positif dengan total penyerapan mencapai 50.900 meter persegi selama semester pertama 2026. 

Penyerapan tersebut didominasi kawasan Jakarta Utara yang menyumbang sekitar 55% dari total penyerapan, diikuti Jakarta Barat sekitar 27% dan Jakarta Selatan sekitar 17%. 

“Tingkat hunian rata-rata keseluruhan pasar perkantoran Non-CBD kembali meningkat pada semester pertama sebesar 0,5%, sehingga mencapai 81,4% pada akhir Juni 2026,” kata Arief. 

Tarif Sewa

Rata-rata tarif sewa dasar perkantoran non-CBD dalam rupiah juga naik menjadi Rp 136.700 per meter persegi per bulan atau meningkat 2,5% secara tahunan (YoY).

Di sisi lain, tarif sewa dalam denominasi dolar AS turun 7,3% secara tahunan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, sementara service charge tetap stabil di level Rp 72.800 per meter persegi per bulan.

Ke depan, Cushman & Wakefield memperkirakan prospek pasar perkantoran masih positif. 

“Penyerapan bersih sepanjang tahun 2026 diproyeksikan mencapai tingkat yang relatif sama dengan capaian tahun sebelumnya. Sejalan dengan tidak adanya tambahan pasokan baru yang masuk pasar dalam waktu dekat, tingkat hunian diperkirakan akan terus mengalami peningkatan," ujar Arief.

Sementara itu, untuk pasar perkantoran non-CBD, Cushman & Wakefield memperkirakan permintaan tetap positif pada semester kedua tahun ini. Tingkat okupansi diproyeksikan stabil seiring tambahan pasokan baru, sedangkan tarif sewa rata-rata diperkirakan tidak mengalami penyesuaian signifikan karena sebagian besar pemilik gedung telah menaikkan tarif sewanya pada semester pertama 2026.

Baca Juga: Okupansi Perkantoran Jakarta Terus Naik, CBRE Proyeksikan CBD Capai 80% pada 2030

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×