kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Dampak Lonjakan Harga dan Kelangkaan Sulfur: Smelter Cemas, HPAL Pangkas Produksi


Rabu, 29 April 2026 / 20:31 WIB
Dampak Lonjakan Harga dan Kelangkaan Sulfur: Smelter Cemas, HPAL Pangkas Produksi
ILUSTRASI. Lonjakan harga sulfur dan geopolitik Timur Tengah menghantam industri hilir tambang nikel. Huayou Cobalt pangkas produksi, biaya operasi naik 200%. (Dok/INCO)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga dan gangguan pasokan sulfur akibat konflik geopolitik di Timur Tengah telah menghantam industri hilir tambang. Para pengusaha smelter sedang cemas, sedangkan fasilitas pengolahan High Pressure Acid Leaching (HPAL) mulai memangkas produksi.

Terbaru, Huayou Cobalt mengumumkan pemangkasan produksi akibat penghentian sementara pada sebagian lini produksi anak usahanya. Merujuk Shanghai Metal Market, Huayou Cobalt memutuskan menghentikan sementara produksi untuk pemeliharaan pada sebagian lini produksi Huafei Nickel & Cobalt mulai 1 Mei 2026.

Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan lonjakan tajam harga sulfur, bahan baku penolong utama untuk produksi, serta faktor lainnya, termasuk pengoperasian beban tinggi sejak commissioning.

Periode pemeliharaan tersebut akan berdampak terhadap sekitar 50% produksi Huafei Nickel & Cobalt, fasilitas HPAL yang berlokasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah menyatakan bahwa tekanan industri hilirisasi nikel, khususnya fasilitas pengolahan dan pemurnian berbasis HPAL saat ini menghadapi lonjakan ekstrem biaya bahan baku. Harga sulfur yang saat ini menjadi komponen biaya terbesar dalam proses HPAL telah mencapai kisaran US$ 960 hingga US$ 1.300 per ton.

Baca Juga: Tumbuh 2,79%, Belanja Suku Cadang Semen Indonesia (SMGR) Tembus Rp 809 Miliar

Melonjak signifikan dibandingkan level harga setahun lalu yang masih sekitar US$ 275 per ton. "Tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah, di samping menyebabkan kelangkaan dan menaikkan harga sulfur, juga berdampak terhadap kenaikan biaya energi secara signifikan," kata Arif saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (29/4/2026).

Pelaku usaha smelter dan HPAL makin terjepit dengan adanya kenaikan royalti dan perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM). Kombinasi berbagai faktor ini menyebabkan lonjakan biaya operasional HPAL yang mendekati 200%.

"Sebuah kondisi tidak sustainable secara bisnis. Menurut kami, kombinasi kebijakan dan geopolitik tersebut menciptakan tekanan berlapis yang secara langsung mengganggu kelayakan ekonomi proyek hilirisasi," tegas Arif.

Praktisi smelter dan Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (Prometindo) Arif S. Tiammar menjelaskan, sulfur harus diolah terlebih dulu menjadi asam sulfat agar bisa menjadi bahan utama untuk melarutkan nikel, kobalt, dan unsur lain pada bijih nikel dalam proses leaching pada HPAL. Kenaikan harga sulfur secara langsung mendongkrak harga asam sulfat.

Kemudian, terjadi kenaikan secara beruntun yang meningkatkan biaya operasi HPAL untuk menghasilkan produk mixed hydroxide precipitate (MHP). Jika kondisi tidak membaik, Arif khawatir bakal banyak fasilitas pengolahan yang memangkas kapasitas produksi, bahkan kemungkinan ada yang menutup operasinya.

"Pelaku usaha tidak sanggup untuk menurunkan harga sulfur. Itu dikembalikan ke hukum pasar, suplai & permintaan. Kini, permintaan sulfur kian tinggi seiring kebutuhan akan pupuk yang sangat tinggi," kata Arif.

Siapkan Skenario Alternatif

Di samping memangkas kapasitas produksi, Arif menyarankan agar pelaku usaha bisa mencari bahan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sulfur. Antara lain dengan menggunakan campuran dari bahan tambang lain yang mengandung sulfur, seperti pirit pada bijih besi.

"Mitigasi untuk bertahan adalah mengurangi kapasitas. Tapi yang lebih elok adalah kolaborasi untuk mengolah bijih besi pirit yang mengandung sulfur. Mengambil besi sekaligus mendapatkan sulfur," terang Arif.

Langkah serupa sedang dijalankan oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Head of Studies and Exploration INCO Tyas Agustinus Rabudianto mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan uji coba pencampuran pirit untuk mengurangi pemakaian sulfur.

Baca Juga: Hilirisasi Dongkrak Ekspor, Tapi Risiko Lingkungan dan Energi Membayangi

Tyas mengungkapkan, dampak lonjakan harga dan kelangkaan pasokan sulfur terhadap smelter INCO tidak sesignifikan dibanding yang menimpa pabrik HPAL. Meski begitu, INCO tetap mencari alternatif untuk mengantisipasi jika kondisi ini berkepanjangan.

Pasokan sulfur INCO selama ini masih mengandalkan impor dari kawasan Timur Tengah. Tyas mengatakan bahwa stok sulfur INCO masih terjaga dalam posisi aman untuk empat hingga enam minggu.

"Sulfur kami masih ada stok. Namun kalau kondisi kayak gini terus berlanjut kan kita harus melakukan sesuatu. Jadi kami siap-siap dari awal biar nanti nggak kaget. Kami cari alternatif sehingga masih bisa tetap menjaga operasi dengan cost yang tidak begitu signifikan," kata Tyas saat ditemui di acara Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), Rabu (29/4/2026).

INCO melakukan uji coba pencampuran pirit yang berasal dari sisa pemrosesan di tambang emas. Pirit tersebut dicampur dengan sulfur dengan persentase tertentu. INCO menguji agar pencampuran ini tidak menimbulkan kendala secara teknikal, lingkungan, dan hasil produksi tetap sesuai standar.

"Kami tes di smelter dalam beberapa rentang rasio pencampuran dengan sulfur. Misalnya 25%, nanti naik lagi. Kalau semua sesuai rencana, aman secara teknikal dan lingkungan tidak ada sesuatu yang dilanggar, mungkin ini sebagai suatu hal yang akan kami pakai sebagai solusi," tandas Tyas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×