Reporter: kompas.com | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia bersiap mengumumkan hasil lelang tahap pertama proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) pada Februari 2026.
Tahap awal ini akan memprioritaskan daerah yang dinilai paling siap, yakni Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi.
Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, mengatakan pengumuman pemenang tender ditargetkan pada pertengahan Februari.
Setelah itu, pembangunan konstruksi PSEL direncanakan mulai Maret 2026 dengan waktu pengerjaan sekitar 1,5 hingga dua tahun. “Pertengahan Februari pengumumannya, lalu konstruksi dimulai sekitar Maret,” ujarnya.
Fadli menjelaskan, dari sekitar 200 perusahaan yang masuk dalam Daftar Penyedia Teknologi (DPT), Danantara telah menyeleksi 24 perusahaan asing asal China, Prancis, dan Jepang sebagai calon badan usaha pengembang dan pengelola PSEL.
Baca Juga: Danantara Bersiap Lelang Proyek Listrik Sampah Tahap 2: Sasar 6 Kota
Perusahaan-perusahaan tersebut nantinya akan membentuk konsorsium dengan mitra perusahaan lokal. Danantara akan melakukan peninjauan ulang untuk memastikan kapabilitas mitra lokal agar proyek berjalan optimal.
“Kami pastikan mitra lokalnya benar-benar mumpuni,” tegas Fadli.
Secara keseluruhan, Danantara telah menetapkan tujuh wilayah yang akan menjadi lokasi pembangunan PSEL, yakni Bali, Yogyakarta, Bogor Raya, Tangerang Raya, Kota Semarang, Bekasi Raya, dan Medan Raya. Setiap fasilitas PSEL dirancang untuk mengelola sekitar 1.000–1.500 ton sampah per hari.
Sementara itu, berdasarkan data 2025, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 140.000 ton per hari.
Fadli menekankan, PSEL bukan solusi tunggal atas persoalan sampah nasional. Kontribusinya diperkirakan baru mencakup sekitar 30 persen dari total masalah.
“Sisanya harus ditangani dengan solusi lain, termasuk pemilahan dan teknologi pengolahan lainnya,” katanya.
Dorongan pengembangan PSEL juga diperkuat oleh kajian Tenggara Strategics pada 2025 yang membandingkan praktik serupa di berbagai negara. Senior Researcher Tenggara Strategics, Intan Salsabila Firman, menyebut PSEL terbukti efektif menekan beban tempat pemrosesan akhir (TPA).
Baca Juga: Danantara Pastikan Insinerator dalam Proyek PSEL Pakai Teknologi Terbaru
“Tantangannya bukan hanya teknologi, tapi integrasi kebijakan dan penerimaan publik,” ujarnya.
Kajian tersebut mencatat, Indonesia menghasilkan sekitar 56,98 juta ton sampah per tahun, namun baru 33,74 persen yang berhasil dikelola. Sisanya masih berakhir di TPA dengan sistem open dumping, yang berdampak pada peningkatan risiko kesehatan dan emisi gas rumah kaca.
Kajian ini sekaligus merespons terbitnya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang memperbarui kerangka kebijakan dan pembiayaan proyek PSEL atau PLTSa.
Pemerintah menargetkan pembangunan 33 unit PLTSa hingga 2029, dengan tujuh unit dijadwalkan mulai dibangun pada 2026.
Baca Juga: Penggunaan Insinerator pada PLTSa Garapan Danantara Berdampak Negatif bagi Lingkungan
Setiap unit dirancang mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sekitar 20 MW, dengan kebutuhan investasi Rp 2–3 triliun per unit serta penyesuaian tarif beli listrik oleh PLN guna menarik minat investasi swasta.
Sumber: https://lestari.kompas.com/read/2026/01/22/093635886/danantara-bakal-umumkan-tender-pengelolaan-sampah-jadi-listrik-februari-ini?page=all#page2.
Selanjutnya: Kuota Produksi Nikel Vale Indonesia (INCO) Dipangkas, Cek Rekomendasi Sahamnya
Menarik Dibaca: Begini Cara Buka Konten Sensitif yang Tersembunyi di X
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













