Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) terus mendorong kemandirian masyarakat desa melalui pengembangan potensi ekonomi lokal. Upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat, membuka peluang usaha, serta membangun ekosistem ekonomi yang dapat dikelola dan dikembangkan secara mandiri.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat, antara lain pengembangan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karangrejo di Magelang, Suadesa Festival sebagai ruang pengembangan UMKM dan ekonomi lokal, serta Program Pendekar Dewa di Desa Pagardewa, Muara Enim, Sumatera Selatan.
Baca Juga: Gali Potensi Pariwisata, Industropolis Batang Hadirkan Amphitheater
Ketiga program tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan mendorong potensi lokal menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan penguatan ekonomi desa menjadi bagian penting dalam menciptakan pertumbuhan yang inklusif karena masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga kapasitas dan akses untuk mengembangkan sumber pendapatan.
“Untuk itu, PGN berupaya membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat mengenali potensinya, meningkatkan kapasitas, dan pada akhirnya mampu mengelola sumber daya yang dimiliki secara mandiri. Ketika ekonomi desa tumbuh, masyarakat semakin berdaya dan keberlanjutan program dapat terus berjalan melalui peran aktif masyarakat itu sendiri,” ujar Fajriyah.
Mengembangkan Potensi Desa Menjadi Aktivitas Ekonomi
Salah satu upaya PGN dilakukan melalui pengembangan Balkondes Karangrejo di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Balkondes menjadi wadah masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi, mulai dari homestay, kuliner, paket wisata, hingga produk ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Pengembangan kawasan tersebut turut didukung infrastruktur energi ramah lingkungan yang dimiliki PGN. Seperti menghadirkan sistem Compressed Natural Gas (CNG) cluster untuk memenuhi kebutuhan energi sekitar 150 rumah tangga serta panel surya untuk menyuplai sebagian kebutuhan listrik kawasan Balkondes.
Alhasil, dari sisi ekonomi, Balkondes PGN Karangrejo mencatat omzet hingga Rp3,6 miliar pada 2024. Sebanyak 80 persen tenaga kerja merupakan masyarakat lokal yang telah dilatih mengelola homestay, restoran, serta berbagai paket wisata, seperti tur VW Safari, bersepeda, arung jeram, dan wisata edukasi pertanian.
Pendapatan Balkondes juga memberikan manfaat bagi desa melalui Pendapatan Asli Desa (PADes), sehingga aktivitas ekonomi yang berkembang turut mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Model pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal juga dilakukan melalui Suadesa Festival. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan masyarakat, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Pada Suadesa Festival 2026 yang diselenggarakan pada 22–23 Agustus 2026 lalu contohnya, ada sebanyak 2.792 pengunjung hadir dan menghasilkan total perputaran ekonomi sebesar Rp1,815 miliar. Kegiatan tersebut juga mengintegrasikan aspek lingkungan melalui pengelolaan sampah. Sebanyak 331,6 kilogram sampah dikumpulkan untuk dipilah dan diproses menjadi barang bernilai guna sebagai bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular.
“Suadesa digelar bukan sekadar festival, tetapi menjadi ruang bersama untuk mempertemukan potensi desa dengan masyarakat yang lebih luas. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong agar produk lokal, UMKM, kreativitas masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” ungkap Division Head CSR PGN, Krisdyan Widagdo Adhi.
Sementara itu, di Sumatra Selatan, PGN menjalankan Program Inovasi Sosial Penguatan Desa Ekonomi Kreatif, Aman, dan Setara (Pendekar Dewa) di Desa Pagardewa, Kabupaten Muara Enim. Program ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan potensi lokal dan penciptaan sumber pendapatan yang lebih beragam.
Pendekar Dewa memperkuat rantai nilai komoditas karet, mengembangkan UMKM, meningkatkan akses terhadap kebutuhan dasar, serta mengembangkan potensi wisata lokal. Pendekatan tersebut mendorong masyarakat memiliki peluang ekonomi yang lebih beragam.
Dampaknya terlihat dari peningkatan pendapatan petani karet yang terlibat dalam program. Pada 2025, pendapatan petani mencapai Rp57,6 juta per tahun, meningkat 33,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Program tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi kelompok perempuan melalui pengembangan UMKM serta mendorong pengembangan kawasan Danau Kemiri sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Sepanjang 2025, Danau Kemiri mencatat 6.554 kunjungan dengan pendapatan wisata mencapai Rp92,48 juta, meningkat 191 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Oleh karena itu, menurut Krisdyan, pengembangan ekonomi desa perlu melihat karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah agar program pemberdayaan menghasilkan manfaat yang relevan dan berkelanjutan.
“Setiap desa memiliki potensi dan tantangan yang berbeda. Sehingga pendekatan pemberdayaan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat dan potensi lokal. PGN berupaya menjadi bagian dari proses tersebut agar masyarakat dapat memiliki fondasi ekonomi yang semakin kuat dan mandiri,” kata Krisdyan.
Berbagai upaya yang dilakukan PGN dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui Balkondes Karangrejo, Suadesa Festival, dan Program Pendekar Dewa tersebut mendapatkan apresiasi dalam Anugerah Ekonomi Hijau 2026 yang diselenggarakan salah satu media pada Kamis, 3 September 2026. PGN menerima penghargaan pada kategori Inisiatif Mendukung Kemandirian Ekonomi Desa. Apresiasi tersebut menjadi pengakuan atas berbagai inisiatif pemberdayaan yang mengintegrasikan penguatan ekonomi lokal dan keberlanjutan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat program-program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami percaya bahwa keberlanjutan dapat tercipta ketika masyarakat memiliki kemampuan dan ekosistem untuk melanjutkan serta mengembangkan potensi mereka secara mandiri,” kata Krisdyan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














