kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Data Center Besar Diminta Bangun Infrastruktur Energi Sendiri, Kadin Angkat Bicara


Senin, 26 Oktober 2026 / 17:20 WIB
Diperbarui Senin, 26 Oktober 2026 / 17:57 WIB
Data Center Besar Diminta Bangun Infrastruktur Energi Sendiri, Kadin Angkat Bicara
ILUSTRASI. Sustainability Framework Pertama yang Memberdayakan Industri Data Center untuk Mencapai Tujuan Susta (Dok/PT Schneider Electric)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan Danantara yang meminta investor data center berskala besar dengan kebutuhan daya di atas 500 MW menyiapkan pasokan energi sendiri menuai sorotan.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai langkah tersebut bertujuan menjaga kestabilan pasokan, namun memerlukan kejelasan agar tidak membebani pelaku usaha.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah, Erwin Aksa menyatakan, pihaknya memahami langkah Danantara untuk memastikan investasi data center besar tidak mengganggu pasokan listrik publik. 

Di sisi lain, dia bilang, industri ini membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil selama 24 jam karena menjadi tulang punggung ekonomi digital.

Baca Juga: Data Center Jadi Magnet Investasi, Kadin Minta Investasi Beri Efek Berganda ke RI

"Kebijakan ini dapat mendorong pertumbuhan bisnis data center apabila memberikan kepastian pasokan listrik jangka panjang dan memungkinkan investor mendapatkan energi kompetitif," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (26/10/2026).

Meski demikian, Erwin mengingatkan, agar aturan tersebut tidak menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan sektor digital nasional.

"Namun, jangan sampai kebijakan ini justru menjadi hambatan baru bagi investasi digital yang sedang berkembang pesat di Indonesia," terangnya.

Di samping itu, Erwin menjelaskan, pembangunan pembangkit 500 MW memerlukan dana sekitar US$ 350 juta hingga US$ 600 juta, belum termasuk jaringan transmisi, cadangan daya, dan bahan bakar.

Menurutnya, ini dikhawatirkan dapat mengurangi daya saing Indonesia di tingkat regional apabila dibandingkan dengan negara tetangga.

"Apalagi Indonesia bersaing dengan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam dalam menarik investasi data center," jelasnya.

Oleh karena itu, Erwin berpandangan, kewajiban energi mandiri tidak semestinya diartikan sebagai keharusan membangun pembangkit sendiri.

Baca Juga: Data Center Kapasitas Besar Diminta Bangun Infrastruktur, AESI Ungkap Untung-Ruginya

Ia mengusulkan agar investor diberi pilihan bekerja sama dengan PLN, independent power producer, maupun perusahaan energi swasta nasional.

"Dengan demikian, akan muncul ekosistem investasi yang saling mendukung antara pengembang data center, perusahaan pembangkit listrik, dan penyedia energi terbarukan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×