kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.546   16,00   0,09%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Daya Beli Masyarakat Dirasa Turun, Industri Mamin Terdampak


Rabu, 04 September 2024 / 20:45 WIB
Daya Beli Masyarakat Dirasa Turun, Industri Mamin Terdampak
ILUSTRASI. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman. Gammi menilai penurunan daya beli masyarakat berdampak pada industri mamin.


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makan-minum (mamin) ikut terdampak dari penurunan daya beli masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah dalam beberapa waktu terakhir. 

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan penurunan daya beli terasa khususnya di sektor pangan sekunder. 

"Mamin kan luas dari pangan pokok sampai sekunder. Yang pangan pokok bisa terus tumbuh bahkan mungkin lebih tinggi peningkatannya. Tapi kita rasakan pangan-pangan sekunder ini yang cukup berat," kata Adhi saat ditemui Kontan di kawasan JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/9). 

Pangan sekunder yang dimaksud Adhi contohnya adalah jenis-jenis makanan ringan seperti permen atau sejenis snack. 

"Kalau di industri susu, mie instan bumbu-bumbu itu masih akan tetap bertumbuh karena memang dibutuhkan. Kita melihat cukup berkembang," tambahnya. 

Baca Juga: Bergantung Bahan Baku Impor, GAPMMI Menanti Investasi di Sektor Mamin

Sayangnya, Adhi belum bisa memberikan angka pasti terkait penurunan daya beli di sektor pangan sekunder tersebut. 

"Kalau ditanya berapa persen pengurangannya, kita masih belum hitung ya, karena kami masih perlu data-data lebih lengkap ya. Tapi kan ini (dampak) dirasakan kesemua industri. Sementara industri mamin bersyukur lah masih bisa bertumbuh, meskipun ada pengaruh lain-lain, apalagi kalau kita lihat teman-teman kita di sektor tekstil atau garmen," jelasnya. 

Untuk mengangkat daya beli masyarakat kelas menengah bawah, Adhi bilang pemerintah perlu memberikan lagi suntikan-suntikan dana sejenis dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT). 

Kami dari industri juga merasakan bahwa daya beli masyarakat menengah ke bawah ini agak berat. Karena memang beberapa kenaikan harga, disamping itu juga banyak pengeluaran masyarakat yang harus ditanggung sementara. 

"Kita berharap pemerintah dapat lebih fokus meningkatkan daya beli di kelas bawah ini. Seperti misalnya BLT-BLT mungkin perlu digalakan lagi. Seperti sebelum-sebelumnya agar bisa menggairahkan pasar terlebih dahulu. Karena memang sementara ini fokus masyarakat ke pangan pokok sementara pangan-pangan sekunder akan sedikit berkurang," jelasnya.

Adapun, dari sisi pelaku, Adhi bilang pihaknya juga secara maksimal menjaga daya beli masyarakat, contohnya dengan  tidak menaikan harga produk mamin dengan cara melakukan reformulasi. 

"Kita dari industri juga mencoba untuk meningkatkan daya beli masyarakat seperti dengan reformulasi, dan harapannya supaya kita tidak menaikan daya jual," tutupnya. 

Baca Juga: Gapmmi: Harga Produk Makanan dan Minuman Belum Berubah Meski Rupiah Menguat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×