kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Degradasi Lahan Pertanian Masih Tinggi, Bioteknologi Mulai Dilirik


Senin, 03 Agustus 2026 / 16:46 WIB
Degradasi Lahan Pertanian Masih Tinggi, Bioteknologi Mulai Dilirik
ILUSTRASI. Transformasi lahan tidur menjadi lahan pertanian di Depok (ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menghadapi tantangan besar di sektor pertanian dengan lebih dari 40 juta hektare lahan pertanian yang telah mengalami degradasi dan tidak lagi produktif secara optimal.

Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penghambat peningkatan produktivitas pertanian dan upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Dalam ajang INAGRITECH 2026, PT Pramudita Darya Parma menawarkan solusi melalui Pupuk Hayati Dinosaurus, produk berbasis bioteknologi yang dirancang untuk memulihkan kesehatan tanah yang mengalami kerusakan akibat degradasi.

Baca Juga: Indonesia Masih Punya 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis, Ini Target Pemulihannya

Founder Pupuk Dinosaurus, Freddy Wijaya, mengatakan pemanfaatan bioteknologi menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi lahan pertanian yang terus menurun.

"Kami berharap semakin banyak praktisi pertanian memanfaatkan bioteknologi untuk memperbaiki ekosistem tanah dan meningkatkan hasil panen demi mendukung kedaulatan pangan Indonesia," ujar Freddy dalam ketearngannya seperti dikutip Senin (3/8/2026).

Perusahaan menjelaskan, salah satu penyebab utama degradasi lahan adalah penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus yang mengganggu keseimbangan ekosistem tanah.

Meski kandungan unsur hara makro masih tersedia, berkurangnya populasi mikroba alami dan tingginya residu kimia membuat produktivitas lahan terus menurun.

Baca Juga: Investor Mulai Lirik Transaksi Derivatif untuk Manfaatkan Pasar Bearish

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pupuk Hayati Dinosaurus dikembangkan dengan mengombinasikan 18 jenis mikroba alami yang memiliki fungsi berbeda, mulai dari menguraikan unsur hara, menambat nitrogen, menghasilkan enzim pertumbuhan, hingga menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tanaman. 

Beberapa mikroba yang digunakan antara lain Azotobacter sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp.

Menurut perusahaan, formulasi tersebut tidak hanya membantu memulihkan kualitas tanah, tetapi juga mampu menekan biaya produksi petani serta meningkatkan hasil panen hingga 30%.

Selain fokus pada pembenahan lahan pertanian, PT Pramudita Darya Parma juga memperluas pengembangan produk berbasis bioteknologi. Pada 2026, perusahaan meluncurkan pupuk khusus untuk aplikasi hydroseeding, yaitu teknik penanaman yang digunakan dalam rehabilitasi lahan kritis, terutama di kawasan lereng.

Baca Juga: Investor China Mulai Lirik Afrika, Dominasi Nikel Indonesia Terancam Kebijakan Baru

PT Pramudita Darya Parma berdiri pada 2019 dengan fokus mengembangkan pupuk berbasis kearifan lokal yang didukung riset dan bioteknologi. Pupuk Hayati DINOSAURUS menjadi produk andalan perusahaan yang difokuskan sebagai pembenah tanah guna mendukung pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×