kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

E-Commerce Ramai-ramai Naikkan Biaya Layanan Aplikasi, Begini Tanggapan Pengamat ICT


Senin, 22 April 2024 / 19:04 WIB
E-Commerce Ramai-ramai Naikkan Biaya Layanan Aplikasi, Begini Tanggapan Pengamat ICT
ILUSTRASI. Sejumlah platform e-commerce di Indonesia akan menaikkan biaya aplikasi kepada seller atau penjual toko online.


Reporter: Venny Suryanto | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah platform e-commerce di Indonesia akan menaikkan biaya aplikasi kepada seller atau penjual toko online. Terbaru, Tokopedia mengumumkan akan melakukan penyesuaian tarif kepada seller di platformnya per 1 Mei 2024. 

Kenaikan ini menyusul Shopee dan Lazada yang telah menaikkan biaya layanan pada akhir 2023. 

Tokopedia berencana akan menaikkan tarif kepada seller dengan level keanggotaan Power Merchant, Power Merchant Pro. Tokopedia membebankan besaran biaya layanan yang harus dibayar seller bervariasi mulai dari 2%  yang akan diberlakukan setelah menyelesaikan 50 transaksi untuk setiap produk terjual. Biaya layanan tersebut akan disesuaikan berdasarkan kategori produk.

Baca Juga: Tokopedia Akan Naikkan Biaya Merchant, Begini Penjelasannya

Sebagai informasi, Tokopedia telah mengkategorikan produk ke dalam 5 grup dengan rincian biaya layanan sebagai berikut: - Kategori Grup A: 6,5% -  Kategori Grup B: 5,5% - Kategori Grup C: 4%  - Kategori Grup D: 3,1%  - Kategori Grup E: 2%. 

Adapun Shopee di akhir tahun lalu telah menaikkan biaya admin penjual di lapaknya atau seller. Mengutip dari laman resmi Shopee, kenaikan admin itu akan berlaku untuk penjual kategori Non-Star atau Star+. Besaran biaya yang dikenakan kepada penjual mulai dari 3,5% hingga 8,5%. Lazada pun menyusul dengan mengumumkan kenaikan di pertengahan bulan Desember.

Menanggapi ini, Pengamat ICT Institute Heru Sutadi menjelaskan kenaikan tarif layanan e-commerce ini memang sah-sah saja dilakukan. Namun, ia berharap kenaikan ini juga tak membebani seller maupun pembeli. 

"Kita berharap meski ada kenaikan tetap memperhatikan keseimbangan pendapatan atau keuntungan antara seller dengan platform. Jangan sampai keuntungannya lebih berat ke platform karena seller menjadi bagian dari aset platform tersebut. Jangan sampai juga harga yang dibebankan ke pembeli jadi lebih mahal," kata Heru kepada Kontan, Senin (22/4). 

Baca Juga: Platform Marketplace Kerek Biaya Layanan, Begini Tanggapan Asosiasi UMKM Indonesia

Menurutnya banyak faktor yang membuat e-commerce menaikkan biaya layanan di antaranya potensi keuntungan lebih dari proses transaksi. 

"Pendorong lain mungkin selama ini biaya layanan masih di bawah cost mereka atau mungkin terlalu banyak promo yg diberikan dari platform atau  platform ingin mendapatkan keuntungan lebih," jelasnya. 

Namun Heru berharap kenaikan ini tidak membebani konsumen dengan kenaikannya tidak tinggi. Sehingga dapat diterima oleh seller. Kenaikan tersebut juga berdasarkan harga produk yang dijual oleh pedagang online dan dipastikan tidak mengurangi trafik transaksi. 

Heru juga melihat prospek pasar e-commerce masih baik di tahun 2024. Di mana Google Termasuk targetkan ekonomi digital di Indonesia capai US$ 135 miliar hingga 2025. "Sementara di 2023 baru sekitar US$ 82 miliar," tutupnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×