kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.537.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.189   15,00   0,08%
  • IDX 4.920   15,48   0,32%
  • KOMPAS100 632   2,75   0,44%
  • LQ45 501   3,97   0,80%
  • ISSI 163   -0,60   -0,36%
  • IDX30 283   2,68   0,96%
  • IDXHIDIV20 382   4,30   1,14%
  • IDX80 73   0,29   0,40%
  • IDXV30 106   0,87   0,82%
  • IDXQ30 95   1,13   1,20%

Biaya Produksi Naik, Industri Mamin Mulai Naikkan Harga 3%-7% di Tengah Tahun


Rabu, 16 September 2026 / 14:49 WIB
Biaya Produksi Naik, Industri Mamin Mulai Naikkan Harga 3%-7% di Tengah Tahun
ILUSTRASI. Pertumbuhan Industri Mamin (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) mulai melakukan penyesuaian harga jual produk pada pertengahan tahun. Langkah tersebut ditempuh di tengah kenaikan berbagai komponen biaya produksi yang semakin menekan industri.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, kenaikan harga produk mamin saat ini berada di kisaran 3%-7%.

"Ya itu karena global, bahan baku, nilai tukar, plastik packaging waktu itu, logistik, energi, semua naik yang luar biasa. Itu di luar dugaan," kata Adhi ditemui di Jiexpo Kemayoran, Rabu (16/9/2026).

Menurut dia, kenaikan harga pada pertengahan tahun merupakan kondisi yang tidak biasa bagi industri mamin. Pasalnya, pelaku usaha umumnya melakukan penyesuaian harga pada akhir atau awal tahun.

Baca Juga: Industri Mamin Optimistis Tumbuh 7% Meski Dibayangi Tekanan Biaya Produksi

"Kita agak anomali tahun ini banyak perusahaan menaikkan harga di tengah tahun. Biasanya kita kalau naik harga itu akhir tahun atau awal tahun," ujarnya.

Adhi mengatakan, tekanan biaya tersebut berasal dari sejumlah faktor, mulai dari harga bahan baku, pelemahan nilai tukar, kemasan plastik, biaya logistik hingga energi.

Kondisi tersebut membuat industri mau tidak mau melakukan penyesuaian harga. Namun, kenaikan harga jual tidak dapat dilakukan terlalu besar lantaran produk makanan dan minuman sangat sensitif terhadap perubahan harga.

"Saya monitor biasanya antara sekitar 3%-7%," ujar Adhi.

Menurut dia, kenaikan harga juga tidak selalu dapat sepenuhnya mengompensasi kenaikan biaya yang ditanggung industri. Pasalnya, pelaku usaha tetap harus mempertimbangkan kemampuan konsumen dalam menyerap kenaikan harga.

Baca Juga: Harga Bahan Baku Naik, Industri Mamin Terjepit Daya Beli

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×