Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kecil dan menengah (IKM) fesyen dan kriya memperluas pasar ekspor. Penguatan desain, kapasitas produksi, hingga akses pasar menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing produk kreatif Indonesia di pasar global.
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji mengatakan, industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena ditopang kekayaan budaya, kreativitas, dan keterampilan masyarakat Indonesia.
“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena Indonesia mempunyai kekayaan budaya, kreativitas, dan keterampilan masyarakat yang sangat beragam. Potensi tersebut harus kita dorong menjadi kekuatan industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memiliki daya saing, dan diterima pasar internasional,” ujar Sarmuji dalam keterangan resmi, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Sarmuji, pelaku IKM tak cukup hanya mengandalkan keunikan desain dan budaya lokal. Kapasitas produksi, kualitas produk, pemahaman pasar, serta strategi pemasaran juga perlu diperkuat agar mampu memenuhi permintaan konsumen global.
Baca Juga: Fokus Genjot Pasar Ekspor, Trisula (TRIS) Yakin Industri Fesyen Tumbuh di 2026
“Kita ingin IKM tidak hanya mampu menghasilkan produk yang bagus, tetapi juga mempunyai kapasitas bisnis yang kuat, mampu memenuhi permintaan pasar, dan terus berkembang menjadi industri yang lebih besar,” katanya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, program pembinaan BPIFK mulai mendorong peningkatan ekspor IKM fesyen dan kriya.
Sepanjang 2018 hingga 2026, BPIFK telah membina 525 IKM yang tersebar di 30 provinsi. Dari jumlah tersebut, IKM binaan BPIFK mencatat nilai ekspor US$ 150,19 ribu pada 2025 yang berasal dari 17 IKM.
Sementara itu, pada Januari-September 2026, nilai ekspor telah mencapai US$ 184,94 ribu dari 25 IKM. Angka tersebut naik 23,1% dibandingkan realisasi ekspor sepanjang 2025.
BPIFK juga mengidentifikasi potensi ekspor sebesar US$ 68,53 ribu dari 13 IKM pada kuartal IV-2026. Jika seluruh potensi tersebut terealisasi, total ekspor IKM binaan BPIFK sepanjang tahun ini diproyeksikan mencapai US$ 253,47 ribu atau tumbuh 68,8% dibandingkan 2025.
Baca Juga: Kemenperin Bidik Ulos Jadi Produk Fesyen Bernilai Ekonomi Tinggi
“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk fesyen dan kriya Indonesia memiliki peluang yang semakin terbuka di pasar internasional. Kami akan terus memperkuat pendampingan agar semakin banyak IKM mampu memenuhi standar pasar global dan membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan,” jelas Reni.
Saat ini, produk IKM binaan BPIFK telah menembus 22 negara di Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Sebanyak 16 IKM juga telah menjalin kemitraan dengan jaringan ritel, department store, pemasok, hingga sektor perhotelan.
Beberapa mitra tersebut antara lain SOGO, Metro, Sarinah, Uniqlo Neighbourhood, serta Amayi Hotel & Resort.
Reni mengatakan, pembinaan juga mendorong peningkatan skala bisnis sejumlah IKM. Eboni Watch, misalnya, mencatat kenaikan omzet dari Rp 2,16 miliar pada 2019 menjadi Rp 4,5 miliar pada 2025. Kapasitas produksinya juga meningkat dari 200 unit menjadi 2.500 unit per bulan.
Sementara itu, Bigissimo mencatatkan kenaikan omzet dari Rp 1,3 miliar pada 2019 menjadi Rp 14 miliar pada 2024. IKM asal Salatiga tersebut juga telah berkembang dari skala industri kecil menjadi industri menengah.
Baca Juga: Kemenperin Bidik 4,43 Juta IKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Ekspor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














